Membedah Seorang Lex

In the previous entry, a blog reader asked how I came up with the name Lex dePraxis. Hmmm, that’s a long story to explain, but since G-spotters also had a related discussion on the process of formulating new persona, I thought this would be a perfect chance to apply peribahasa ‘sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.”

Konon, nama yang pertama kali saya pilih adalah REX, sebuah kata yang selalu menjadi favorit saya ketika kuliah dulu belajar bahasa Latin di kampus. Kata tersebut, selain artinya ‘the king’, ia juga memiliki mengandung imaji besar, kokoh, terpercaya, kepemimpinan, dan kuno (ancient). Alasan lainnya, REX juga membawa kenangan khusus akan jagoan idola saya semenjak kecil, Black Masked Rider RX.

Kotaro Minami adalah sosok manusia pertama yang membuat saya berdebar-debar dan berteriak, “It’s me! It’s me! Wanna be like him!” Satu theme song-nya, Dare Ka Ga Kimi Wo Ai Shiteru (klik kanan Save Target As untuk download), dahulu saya hapal mati untuk sing along karena, sekalipun saat itu saya tidak mengerti artinya, entah mengapa lagunya terasa berbicara secara pribadi tentang perjalanan hidup saya selama bertahun-tahun ke depan. Hari ini, beberapa menit yang lalu, belasan tahun kemudian semenjak mendengarnya pertama kali, saya baru tahu arti liriknya…

Tatta hitori no tatakai ni
When you’re spent after fighting a lonely battle
Tsukarehatete shizumu toki
And feel like sinking
Hitomi wo tojite kao agete
Close your eyes, look up
Mimi wo sumasete mireba ii
Just listen closely

Lonely Lonely Heart
Lonely Lonely Heart
Kaze ga sasayaite yuku darou
The wind will go on whispering
Lonely Lonely Heart
Lonely Lonely Heart
Hitoribotchi ja nai no sa
You’re not alone

Dare ka ga kimi wo ai shite ‘ru
Somebody loves you
Dare ka ga kimi wo shinjite ‘ru
Somebody believes in you
Dare ka ga kimi wo motomete ‘ru
Somebody is looking for you
Doko ka de, doko ka de
Somewhere, somewhere

[Instrumental]

Mune wa kizutsuki hiza wa ore
When you’re hurt and you fall upon your knees
Haruka na yume wo kuyamu toki
Don’t look back, look up
Furimukanaide kao agete
And when you feel sorry about your faraway dreams
Ashita no michi wo mireba ii
Just keep your eyes fixed at the path you’ll take

Lonely Lonely Heart
Lonely Lonely Heart
Chikyuu wa ai ga sumau hoshi
Earth is a planet where love dwells
Lonely Lonely Heart
Lonely Lonely Heart
Hitoribotchi ja nai no sa
You’re not alone

Dare ka ga kimi wo ai shite ‘ru
Somebody loves you
Dare ka ga kimi wo sagashite ‘ru
Somebody is searching for you
Dare ka ga kimi wo mitsumete ‘ru
Somebody is gazing at you
Itsu demo, itsu demo
Somewhere, somewhere

Dare ka ga kimi wo ai shite ‘ru
Somebody loves you
Dare ka ga kimi wo shinjite ‘ru
Somebody believes in you
Dare ka ga kimi wo motomete ‘ru
Somebody is looking for you
Doko ka de Doko ka de
Somewhere Somewhere
Itsu demo Doko ka de
Always Somewhere

Only my close friends who can really appreciate how that song encapsulates the essense of my life. I am Black Masked Rider RX, I am REX. Ah, brings back all the memory… So okay, back to the story, the name REX does feels appropriate and good. Hanya saja ada sesuatu yang aneh mengganjal jika kata itu telanjang berdiri sendiri. Selain itu, saya tidak bisa menunjuk dengan jelas mengapa saya kurang sreg dengannya, sekaligus saya tidak bisa menemukan nama lain yang lebih bagus dari itu. Inilah masalah pertama. Solusi yang bisa terpikir adalah dengan menciptakan surname alias nama famili, nama belakang, nama lengkap. Proses pencarian berlangsung selama beberapa minggu hingga akhirnya tersandung dengan sesuatu yang sangat mengena, yakni LEGIO dari kata Legion yang secara pendek berarti “kami ada banyak.”

Semenjak kecil saya memiliki kekaguman akan fenomena Kepribadian Ganda atau Multiple Personality Disorder (MPD) dan Schizophrenia. Saya selalu menikmati jejak penampilannya dalam berbagai publikasi populer seperti film Primal Fear, Don Juan deMarco, A Scanner Darkly, Identity, Me Myself and Irene, The Messenger, Fight Club, A Beautiful Mind, 23, dan buku Sybil. Lebih dari itu, semua teman-teman saya tahu bahwa saya punya harapan bisa memiliki MPD agar bisa melihat dunia dari banyak sudut pandang dan karakter yang berbeda-beda. Sangat menakjubkan. I’m not kidding. I do understand that it’s a weird wish, but the world of MPD truly fascinates me.

Pertanyaan, “Siapakah saya?” sudah menjadi pergunjingan para filsuf dan ilmuan di sepanjang jaman. Apakah saya sudah terlahir otomatis sebagai saya, atau saya harus tumbuh untuk menjadi saya? Benarkah hanya ada satu saya di dalam diri saya, karena mengapa saya bisa bertindak hal-hal yang saya tidak sukai? Jika hanya ada satu saya, mengapa ada beberapa kesempatan saya yang di kepala berkata A, sementara saya yang di dada berkata B? Jika saya ada banyak, apa gunanya dan mengapa kadang yang mereka bisa kompak bersatu dan kadang saling meniadakan satu dengan lainnya? Ada banyak pertanyaan lain yang membuat saya berpikir seseorang dengan MPD justru menggambarkan dengan jujur, apa adanya tentang keadaan manusia yang sebenar-benarnya. Sebuah cermin retak. Fragmentasi. Banyak kepingan. That’s why I love MPDs.

Atas dasar itu, LEGIO merupakan jubah yang sangat dibutuhkan oleh REX. Sebagai tambahan, partner saya saat itu juga mengenalkan dengan sebuah kelompok yang bernama Legio Mariae. It contains both mythical and surrealistic sound. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk memutuskan memilih LEGIO sebagai surname, lengkapnya REX LEGIO yang akhirnya berhasil mengakhiri masalah pertama di atas, namun memulai masalah kedua.

Ada sedikit kecanggungan penyebutan bunyi huruf kata pertama R(ex) yang disusul bunyi huruf kata kedua L(egio). Entah mengapa, bunyi yang kedua itu terasa lebih menonjol, cenderung menumpulkan bunyi yang pertama, padahal justru saya ingin menaruh penekanan pada kata yang pertama. Secara linguistik, hal tersebut memang disebutkan karena bunyi L adalah bentuk penyederhanaan dari bunyi R (seperti orang cadel akan menyebutkan ‘R’ dengan ‘L’). REX LEGIO terasa seperti lagu yang prematur, menggeliat sungsang karena kode genetik yang tidak berpadanan dengan rapih. Selagi memikirkan hal itu, mendadak kepala saya memercikkan ide baru untuk mengaplikasikan efek hipnotik dari phonological loop, seperti contohnya frase ‘Mangga Muda’, ‘Terus Terang’, ‘Suka Sama Suka’, ‘Gegap Gempita’, ‘Lika Liku Laki Laki’, ‘Pulang Pergi’, atau pada bahasa Inggris ‘Bad Boys’, ‘Chit Chat’, ‘Double Dare’, ‘Hip Hop’, ‘Trick or Treat’.

Jika mengikuti pola demikian, sekaligus memperbaiki rantai linguistiknya, nama REX LEGIO dapat diubah menjadi dua buah variasi, yakni REX REGIO atau LEX LEGIO. Detik itu juga, lampu di kepala saya mendadak menyala terang. REX REGIO terdengar dua kali lebih kompleks dibandingkan REX LEGIO, sementara LEX LEGIO justru terasa sangat ringan, alamiah dan santai. Belum lagi kata REGIO mengingatkan saya akan nama Rufio, seorang karakter paling menyebalkan dari film favorit Hook. Sementara LEX erat dengan salah satu tokoh villain yang paling saya kagumi dari seluruh jagat dunia superhero, yakni Lex Luthor, satu-satunya manusia-biasa yang memiliki kecerdasan untuk berhadapan menantang super-manusia. Plus LEX adalah modifikasi terbaik dari REX karena tetap memiliki unsur-unsur yang sama karena dalam bahasa Latin juga terdapat kata LEX yang berarti ‘law, statute, covenant, agreement’. Ini adalah solusi yang memuaskan untuk masalah yang kedua.

Nama LEX LEGIO benar-benar membuat saya jatuh hati. Saya rajin memakai dan menyebarkannya selama beberapa minggu, namun… semakin sering saya menggunakannya, semakin saya merasa terganggu dengan terlalu lekatnya nama tersebut dengan imej Lex Luthor dan dunia Superman yang penuh dengan phonological loop juga. Perhatikan: Lex Luthor, Lionel Luthor (ayah), Lilian Luthor (ibu), Lana Lang, Louis Lane, dan bahkan dua orang pencipta karakter Superman, Jerry Siegel dan Joe Shuster, adalah sebuah loop. Nama LEX LEGIO begitu kental dengan dunia Superman. Dengan demikian, terbitlah masalah ketiga.

Ia sudah terlalu bermuatan sehingga saya merasa seperti sekedar kloning dari figur Lex Luthor. Seluruh hasil kerja keras pemikiran beberapa minggu sebelumnya terpaksa harus saya buang begitu saja. Saya kembali mencari surname baru yang bisa berkorelasi dengan firstname LEX. Jujur itu terasa sangat sulit karena nama LEX LEGIO sudah sempat saya pakai selama beberapa minggu dan meninggalkan kesan yang begitu dalam. Saya ingin keluar dari bayang-bayang karakter sang manusia botak pembenci Clark Kent itu, sekaligus ingin mempertahankan nama LEX serta juga memainkan efek phonological loop dalam bentuk yang sedikit berbeda. Berdasarkan riset, ada dua cara untuk menciptakan efek tersebut. Pertama adalah dengan Aliterasi, kedua dengan Rima. Satu detik setelah mengetahui hal ini, mendadak ada suara membisikkan halus sebuah kata yang sangat asing di dalam kepala saya: PRAXIS.

Ada sensasi khusus dengan bunyi kata tersebut, namun saya sama sekali tidak mengerti entah darimana munculnya dan juga tidak tahu apa artinya. Jika ditelaah secara bunyi, PRAXIS juga memiliki para-rhyme dengan LEX. Dengan jantung yang berdegup kencang, saya mencoba mencari arti kata tersebut. Apa yang saya temukan dalam Wikipedia membuat mata saya berkaca-kaca, “Praxis is the process by which a theory or lesson becomes part of lived experience. Rather than a lesson being simply absorbed at the intellectual level in a classroom, ideas are tested and experienced in the real world, followed by an opportunity for reflective contemplation. In this way, abstract concepts are connected with lived reality.

Dalam referensi lain tertulis, “Praxis is a complex activity by which individuals create culture and society, and become critically conscious human beings. Praxis comprises a cycle of action-reflection-action which is central to liberatory education. Characteristics of praxis include self-determination (as opposed to coercion), intentionality (as opposed to reaction), creativity (as opposed to homogeneity), and rationality (as opposed to chance)“.

Saya menemukan tulisan Eka Darmaputera dalam koran Sinar Harapan yang menjelaskan, “… melayani atau memimpin itu memang tak pernah teori semata, melainkan aksi. Tindakan. Lebih tepat bila disebut ‘praxis’. Apakah praxis itu? Praxis adalah teori tapi yang dijabarkan melalui praktik. Karenanya, praxis adalah praktik, tapi praktik yang secara sadar merefleksikan keyakinan, prinsip, atau teori tertentu.

Sebuah artikel penjabaran yang lebih lengkap bahkan menjelaskan bahwa Praxis adalah, “… acts which shape and change the world.” Saat itu juga, saya tahu pencarian yang melelahkan ini akhirnya akan menemui ujungnya. I absolutely have no idea how my mind could suddenly whispered the a word I have never known before, but PRAXIS embodies exactly all the works I’ve been doing in the past, the present, and also what I’m seeing of myself in the future.

Mengutip apa yang saya tulis di forum G-spot, tingginya angka kematian di Afrika membuat banyak suku yang menganggap label nama sebagai sebuah doa untuk melindungi sang manusia bisa bertahan hidup dan tidak melenceng tergoda olah rayuan dewa maut. Jadi mereka memberikan nama-nama mantera seperti ‘Durosomo’ yang berarti ‘stay and play the child’ dan ‘Banjoko’ yang berarti ‘stay with me.’ Budaya Yahudi dan Tiongkok kuno juga berbagi latar belakang yang sama tentang label identitas. Nama seseorang selalu dianggap memiliki nilai ajaib dan kesaktian besar, sehingga rakyat biasa dilarang untuk menyebutkan nama Kaisar (Cina) dan nama Tuhan (Yahudi). Orang yang melanggar peraturan tersebut dianggap ingin mencuri kekuatan serta tidak menghargai nilai dari nama Kaisar dan Tuhan, sehingga akan diganjar hukuman mati.

Di belahan dunia lain, Mesir kuno, label nama sebagai realisasi dari identitas adalah sesuatu yang dianggap sangat penting karena “… like the shadow, the name was thought of as a living part of each individual, which had to be assigned immediately at birth, for otherwise it was felt that the individual would not properly come into existence.“ Perhatikan penekanan pada bagian terakhir, “karena jika tidak diberikan nama, maka individu yang bersangkutan akan mengalami kesulitan hidup di dunia.”

Dalam bukunya yang berjudul In Memoriam YB Mangunwijaya – Pelajaran dari Sebuah Kematian, Ignas Kleden menulis di halaman 193, “Praksis menjadi roh dalam mengerjakan apa saja. Termasuk menggagas dan merancang konsep entah bangunan maupun pendidikan masyarakat. Hidup adalah praksis dan teori adalah praksis.LEX dan PRAXIS adalah mantra yang tepat. Feels so good. Feel so natural. Feels like finding and falling in love with myself all over again. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menemukan cara menggabungkan kedua nama tersebut.

“I am Lex, The Praxis. I am Lex dePraxis.” Rebirth, complete.

Blog readers and HS alumnae, I hope you learn something from today’s entry. Sebagai penutup, nikmati satu lagi sajian sendu theme song Black Masked Rider, Long Long Ago 20th Century, yang penuh kenangan itu. Dan buat yang ingin bernostalgia lebih banyak, silakan berkunjung ke Dedicated to Black. 😀

Midori nasu daichi
Fields of green that covered the land
Shiki ori ori no hana
The grace of seasons,flowers of prayers
Shiroi sunahama to
Beaches brimming with white sands
Karen na sakura-kai
And the pretty sakura shells
Mada hito no mune ni
They brought us Joy
Nukumori ga atte
To all of our hearts
Mada umi no iro ga
That was a time when
Kobaruto no jidai
The oceans were still cobalt blue
Furuki yoki toki
Tresured days of the past
Long Long ago, 20th Century
Long long ago,20th century

Shizen no megumi ga hito to machi wo tsunagi
Shigeru gairoju to sobieru matenrou
Mada otoko-tachi ga jiyuu ni akogare
Mada onna-tachi wa yasashisa no jidai
Natsukashii toki
Long Long ago, 20th Century

 

Midori nasu daichi Shiki ori ori no hana
Shiroi sunahama to karen na sakura-kai

Leave a Reply

  1. Pingback: Pencak Silat dan Storytelling | Romantic Renaissance