Bisikan tentang cinta, bangsa, dan dunia..

 

Bisikan tentang Cinta, Bangsa, dan Dunia

Banyak orang bertanya, “Jet dan Kei sudah sering komentar di twitter soal kondisi politik nasional dan internasional. Kok elo engga ada berkomentar apa-apa, Lex? ” Jawaban saya pendek: ada kok, tapi jarang dan selalu terselip dalam bisikan halus di sana-sini.

Kenapa diselip halus? Kenapa tidak sering? Jujur, karena saya (amat sangat) malas ikut menjejakkan diri di ranah itu. Sumber daya saya terbatas, sehingga saya tidak selalu bisa (ikut) merevolusi segala sesuatu. Keterbatasan itu masih ditambah lagi dengan kejengahan saya yang menjadi-jadi: saya melihat pertempuran frontal, timpuk-timpukan, dan saling menjegal. Ikut bersuara, walaupun sekedar menyebarkan informasi, hanyalah akan menambah kebisingan. Continue reading


JKT48, Wota, dan Cinta

JKT48, Wota, dan Cinta

You know, Lex,” ucap teman saya beberapa tahun yang lalu saat di puncak salah satu gedung Bali dengan ketinggian 45 meter, “There are stupid things you should do at least once in a lifetime,” lanjutnya sambil tersenyum, lalu melompat berteriak bahagia sambil meluncur merenggangkan tali bungee jumping-nya. Tadi malam saya mengikuti sarannya itu: menonton konser JKT48 di fX Senayan.

Persis subtitle blog ini, Days of Our Lives, saya menulis hal-hal lepas di luar profesi saya sebagai love coach ataupun tentang ilmu cinta, walau akan selalu ada banyak referensi ke arah sana. Ini adalah kisah studi pengamatan saya yang bertahan melalui konser JKT48 dan berhasil kembali untuk menceritakannya untuk Anda. This is going to be a very long, heavy, and eye-opening post. Definitely not suitable for people with mediocre minds, so enter at your own risk!

Continue reading


Gentleman = Bawain Tas Kekasih?

Gentleman Itu Bawain Tas KekasihApakah kamu pernah diminta membawakan tas pacarmu? Survey Social Development Service di Singapura mengungkap statistik bahwa 1 dari 4 wanita di sana mengharapkan sang kekasih membawakan tasnya dan 70% pria di sana mengaku bersedia melakukannya sebagai bukti sikap seorang gentleman. Kebiasaan ini sepertinya juga semakin sering ditemukan di Indonesia. Kamu pasti pernah lihat pemandangan seperti itu, ‘kan?

Bagaimana dengan respon dari para wanita akan fenomena kebiasaan tersebut? Tercatat dahulu sebuah diskusi pro-kontra berkepanjangan di forum Kompas. Rasanya tidak begitu mengherankan jika mereka terbagi atas dua kelompok: kelompok yang ingin/suka kekasihnya membawakan tas dan kelompok yang menolak/melarang kekasihnya membawakan tas.

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
 

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
Tulisan iseng namun panjang ini terdiri atas dua bagian, yaitu pembahasan kultur Asia yang terbiasa feminin dan pembahasan konsep gentleman kultur Barat. Bagi saya pribadi, perilaku-perilaku di atas adalah sesuatu yang rasanya tidak tepat, walaupun bukan berarti saya menentangnya 100%.

Setidaknya ada tiga reaksi pria ketika saya tunjukkan gambar tersebut. Pertama adalah kelompok pria yang menganggap membawakan tas kekasihnya itu sikap yang merendahkan sang pria. Kedua adalah kelompok pria yang menganggapnya sebagai tanda kecintaan dan kepedulian. Dan ketiga adalah kelompok pria yang menganggapnya sebagai tanggung jawab pria dan pembuktian gentleman. Saya bisa bersimpati dengan kelompok satu dan dua, namun total geleng-geleng kepala dengan kelompok tiga.

Kelompok pertama ada benarnya, saya setuju. Tas wanita diciptakan dengan bentuk dan ornamen feminin karena memang agar terlihat pas dan indah dipegang oleh figur yang feminin, yaitu wanita. Menurut sejarahnya, handbags berawal dari konsep purse atau pouches alias dompet kecil. Bukan cuma bentuknya yang feminin, karena menurut teori psikoanalisa Freud, tas/dompet wanita itu adalah lambang dari rahim dan alat kelamin wanita. Bahkan kata ‘purse’ sendiri merupakan bahasa prokem untuk pudenda atau vulva.

Jadi dengan semua karakteristik itu, rasanya seorang pria sangat tidak tepat jika harus menenteng tas wanita. Tentu tidak ada dosa atau pelanggaran moral jika seorang pria membawakan tas kekasihnya, selain terlihat kurang menyenangkan kalau dilihat.

Merendahkan maskulinitas seorang pria? Jelas tidak sampai situ sih.

Apakah wanita yang membawakan tas koper/ransel kekasih prianya itu terlihat merendahkan citra femininitas? Tidak juga ‘kan. Jadi saya setuju dengan kelompok ini, hanya saja bukan soal merendahkannya, tapi soal apakah tindakan ini kongruen atau tidak. Kongruen artinya pas, cocok, atau nyaman pada tempatnya. Sesuatu yang kongruen itu biasanya lebih indah atau lebih menyenangkan.

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
Misalnya memasukkan bubuk lada ke es campur tidak bikin dia jadi tidak layak disebut es campur. Dia tetap bernama es campur; cuman es campur yang aneh rasanya aja karena dimasukkan satu bumbu yang tidak kongruen. Nah begitu juga jika sebuah barang yang begitu feminin ditenteng-tenteng oleh sosok pria yang begitu maskulin. Sah-sah saja, sang pria tetap berjenis kelamin pria dan berorientasi seks normal.. cuman keliatannya aneh aja, tidak pada tempatnya, dan memancing becandaan dangkal yang berbau homofobik.

Ya seorang pria bisa jadi terlihat feminin jika membawakan tas kekasihnya, tapi pria sejati yang benar-benar stabil dan secure kepriaannya tidak takut ‘terlihat feminin’ ataupun ‘terlihat gay’ oleh orang lain. Saya tidak menyarankan pria-pria membawakan tas pacarnya bukan agar kamu tidak dicap gay, tapi agar kamu terbiasa menghargai diri sendiri. Hargailah dirimu sebagai pria yang secara alamiah memang memiliki peranan dan energi yang maskulin.

Ini pandangan saya tentang hubungan yang sehat: perlu ada keseimbangan yin dan yang, alias energi fenimin dan maskulin. Wanita adalah figur yang secara alamiah lebih erat dan kental dengan energi femininnya, sementara pria dengan energi maskulinnya. Kedua energi itu perlu terus dijaga dalam figurnya masing-masing agar hubungan bisa berjalan harmonis. Wanita bertanggungjawab menghargai femininitasnya, pria bertanggungjawab menghargai maskulinitasnya. Hidup itu mudah dan indah jika pola tersebut dijaga dengan baik.

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
Jika wanita sering meminta sang kekasih membawakan tasnya, itu menunjukkan ketidakbertanggungjawabannya terhadap femininitasnya dan juga tidak menghargai maskulinitas kekasihnya. Saya banyak mendengar pria yang berkisah tentang pacar-pacar mereka mengeluh, “Cowok lain mau kok ngebawain tas ceweknya, kenapa kamu ga romantis dan gentleman kayak begitu?” Inilah virus insepsi yang membuat fenomena Pria-Pria Pembawa Tas Kekasih semakin menjamur di mana-mana. Sebagai makhluk yang sangat kompetitif, wanita ingin memiliki bragging rights bahwa dirinya bisa ‘membuat’ sang kekasih bertekuk lutut dan tunduk padanya. Menyerahkan tas feminin agar dibawa oleh sang kekasih merupakan salah satu parade kemenangan dan ekspresi kehebatan mereka dibanding wanita lain. Tentu ini tidak dilakukan secara sadar, kecuali dia memang wanita psycho dan dominatrix. 😀

Hal tersebut cenderung dilakukan oleh para wanita kosmopolitan sebagai bagian dari ritual ‘Fun Fearless Female‘ mereka. Untuk membuktikan bahwa dirinya wanita modern yang tidak boleh dipandang remeh, mereka mengendalikan pria dengan cara memegang hak sertifikasi seorang gentleman. “Jika kamu membawakan tas saya, kamu adalah Certified Gentleman. Jika tidak, kamu adalah banci!!!” Definisi seorang gentleman ada di tangan seorang wanita, itu adalah sesuatu yang sangat kacau sebagaimana saya akan jelaskan nanti. Tidak heran kini banyak hubungan cinta yang hancur berantakan karena ambiguitas peranan yin dan yang ini.

Respon dari kelompok yang kedua juga ada benarnya: membawakan tas adalah salah satu ungkapan kepekaan sebagai pria yang ingin melindungi dan membantu sang kekasih. Saya setuju sekali, tapi itu hanya boleh terjadi jika dan hanya jika sang kekasih sedang PERLU dilindungi dan dibantu. Ada kondisi-kondisi tertentu dimana bukan saja saya mengiyakan permintaan kekasih untuk membawakan tasnya, tapi saya juga kadang akan berani menyodorkan diri untuk tindakan tersebut. Misalnya jika dia tersandung, jatuh, dan variasi sakit atau bahaya mendadak lainnya. Untuk sementara waktu saya akan membawakan tasnya sampai dia bisa kembali berjalan dengan nyaman atau tidak begitu sakit lagi. Jika sakitnya terus lama mengganggu, ya stop jalan-jalannya dan pulang aja langsung supaya istirahat di rumah, bukannya terus maksa jalan sambil saya tentengin tasnya.

Kondisi-kondisi apa saja yang (menurut saya) kekasih TIDAK perlu dibantu membawakan tasnya:

  1. jika dia capek dan pegal membawa tasnya yang berat. Prinsip saya: kalo berani masukin segudang barang di tas untuk jalan-jalan, ya harus berani tanggung jawab menentengnya. Jika memang lelah, daripada membawakan tasnya, saya akan mengajaknya duduk istirahat di kafe atau resto.
  2. Jika dia kewalahan karena membawa banyak kantong belanjaan. Prinsip saya adalah kantong belanjaan itu sama seperti tas: isinya menentukan siapa yang membawanya. Jadi kalo kantong itu berisi pakaian wanita, kosmetik, atau apapun yang menjadi kepentingannya, berarti itu adalah tanggung jawab dia. Sama seperti saya pasti akan bawa sendiri barang-barang kepentingan saya. Kalo dia repot kebanyakan kantong, dia tetap wajib bawa sendiri dan jadikan pelajaran supaya lain kali tidak bisa manajemen timing shopping. Seandainya kantong itu berisi keperluan bersama (seperti belanja bahan-bahan masak), maka saya bersedia membawakannya, terutama jika cukup berat dan melelahkan.
  3. Jika dia mau pakai kedua tangannya utk browsing item belanjaan di rak, mengetik SMS/BBM, dan termasuk ketika dia sedang ingin fitting baju. Prinsip saya lagi: kalau tas itu bikin sulit beraktivitas, ya ga usah dibeli dan dibawa; kalo maksa pengen membawa, ya bertanggungjawablah dan jangan komplen kalau repot bergerak.
  4. Jika dia mau ke toilet atau restroom. Saya selalu bingung melihat pria-pria yang berdiri dengan mata kosong di depan koridor toilet sambil menenteng tas pasangannya. Bukannya kalo ke restroom mereka sekaligus pengen touch up merapihkan diri dengan segala bedak, parfum, sisir, dsb ya? Kok si wanita malah menitipkan tas? Masih salah satu misteri buat saya, dan saya berprinsip untuk tidak membawakan tasnya.
  5. Jika dia hendak berfoto dengan teman-temannya. Prinsip saya: tas itu bagian dari artileri perhiasan wanita, jadi kalau dia mau berfoto ya wajib dia bawa sendiri, bukannya diserahkan pada saya.
  6. Jika dia menggendong bayi. Hanya karena dia menggendong bayi tidak mengubah bahwa tasnya adalah barang yang feminin dan dia bertanggungjawab untuknya. Prinsip saya: jika tahu ingin berjalan-jalan dengan bayi, dia wajib memilih tas yang nyaman dibawa. Saya bersedia bertanggungjawab untuk tas yang berisi peralatan bayi, tapi tas berisi dompet dan peralatan kecantikan adalah tanggung jawabnya pribadi. Kecuali si bayi lagi rewel sekali, saya mungkin akan menawarkan diri membawa tasnya sejenak. Atau saya beli kereta bayi sekaligus deh, lebih nyaman.

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
Jadi saya setuju dengan pria kelompok kedua yang menganggap membawakan tas sebagai tanda kepedulian.. asalkan ada kondisi yang tepat bagi saya membantu membawakan tasnya sejenak. Saya beri penekanan pada kata KONDISI dan SEJENAK. Kondisi sudah saya jelaskan di atas, yang belum dijelaskan adalah sejenak. Saya bersedia ‘membantu membawakan sejenak’ itu artinya tidak di sepanjang jalan dan sepanjang hari. Kalau kondisinya sudah kembali normal, ya tas itu seharusnya kembali normal dipegang oleh pemiliknya. Saya bersedia ‘membantu membawakan sejenak’ lebih cocok disebut memegangkan, bukannya membawakan.

Apa bedanya memegangkan dan membawakan? Caranya! Kalau memegangkan ya tali digenggam telapak tangan dengan dan posisi tas bergantung di sisi lutut. Kalau membawakan itu tali diselempangkan di pundak dan posisi tas bergantung di kepitan lengan atau di sisi pinggang. Beda tipis, tapi memberikan efek penampilan yang berbeda.

Beberapa kali dalam setahun saya akan dengan sengaja melanggar keenam prinsip di atas  dan membawakan tas kekasih saya di sepanjang jalan; saya melakukannya dengan tujuan bercanda, tidak kaku, dan menambah kesegaran yang aneh dalam hubungan. Mungkin dua atau tiga kali saja cukup, sisanya saya jalankan persis sesuai prinsip.

Jika ingin memanjakan kekasih, saya lakukan dengan cara-cara yang lain, bukan dengan membawakan tasnya. Saya menyayangi kekasih saya dan dia juga sudah sangat tahu itu sehingga dia tidak perlu meminta-minta pembuktian diri dan kesejatian cinta saya padanya. Wahai pria jomblo, demikianlah seharusnya kriteria kamu untuk calon kekasihmu nanti. Wahai wanita jomblo, demikianlah seharusnya kamu memperlakukan calon kekasihmu nanti.

Itu sebabnya saya sangat menggeleng-gelengkan kepala pada kelompok pria ketiga yang merasa membawakan tas kekasihnya sebagai demonstrasi gentleman dan tanggung jawabnya sebagai pria. Kelompok pria ini, bukan saja mengiyakan ketika diminta, tapi juga sering menawarkan diri dan bahkan sampai memaksa untuk membawakan. Saya tidak mengada-ngada karena saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri beberapa sahabat saya melakuan hal tersebut, dan mendengar puluhan cerita sejenis dari banyak teman wanita.

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
Ini adalah generasi pria malang yang butuh dan haus akan kehadiran wanita, karena mengutip Tyler Durden dalam Fight Club, “We’re a generation of men raised by women.” Mereka tumbuh kekurangan peneguhan maskulinitas dari pria-pria dewasa dalam hidupnya. Mereka memiliki konsep identitas diri yang labil/lemah, biasanya minder dan terlalu dimanja sewaktu kecil, sehingga di usia dewasa mereka selalu berusaha menegaskan jati dirinya lewat pengakuan dari orang lain, atau dalam hal ini pengakuan dari kekasihnya.

Bagian Pertama – Kultur Feminin Asia

Fenomena di atas bisa ditelaah dari faktor tradisi dan kultur dari bangsa-bangsa Asia, khususnya Cina dan rumpun-rumpun tetangganya. Banyak fitur dari kebudayaan Cina, jika ditampilkan bersebelahan dengan budaya Barat, terlihat bernuansa lembut dan feminin: kerendahan hati, penundukan diri, penekanan pada harmoni, keluarga dan komunitas. Berdasarkan cerita, mama saya dahulu memiliki seorang wanita karir kantoran dan juga bisnis pribadi yang berjalan sekaligus. Tapi setelah pernikahan dengan papa dan kelahiran saya, mama dengan sukarela melepaskan dunia itu sekalipun penghasilannya lebih signifikan dibandingkan papa.

Wanita Asia cenderung lebih feminin dan mengalah dibandingkan ukuran wanita-wanita Barat yang selalu ingin tampil sederajat dengan kekasihnya. Jika sudah menikah, wanita Asia tidak keberatan dengan pembagian peran seperti itu. Seorang wanita Asia bersedia berbagi peran dan ‘mengalah’ di mata publik. Di depan keluarga dan anak-anaknya, keputusan dan tindakan selalu berdasar pada sang suami saja. Seorang wanita Asia berani untuk mengorbankan karirnya demi menemani dan membantu karir sang suami.

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
Kebanyakan wanita Asia tidak keberatan melakukan berbagai ‘penundukan diri’ tersebut karena bisa diseimbangkan oleh berbagai ‘penundukan diri’ juga dari para pria Asia yang menjadi kekasih mereka. Pria Asia terbiasa membalas dengan sikap-sikap ‘pria feminin’ yang dianggap kaum Barat sebagai keterlaluan, memalukan atau merendahkan derajat maskulinitas.

Misalnya dengan memanjakan sang kekasih lewat ekspresi verbal yang terlalu manis melankolis (“Aku tidak bisa hidup tanpamu!” dan “Belahlah dadaku, hanya ada dirimu saja!”) atau perbuatan yang terlalu lembut romantis (seperti bersedia menemani kekasih/gebetan kemana saja dan budaya menembak atau meminta persetujuan untuk memulai hubungan). Tradisi wanita Asia menampilkan Feminitas Yang Feminin bisa diseimbangkan dengan harmoni oleh tradisi pria Asia yang juga bersedia menampilkan Maskulinitas Yang Feminin.

Corak femininitas wanita Asia tersebut kemudian perlahan mulai bergeser ketika Cina membuka dirinya terhadap budaya Barat. Saya ambil satu contoh spesifik: misalnya ketika Shanghai tumbuh jadi lebih komersil secara bisnis dan menyukai Barat, para wanita Shanghai pun jadi tumbuh jadi lebih berani, dominan, dan banyak menuntut. Semangat emansipasi wanita diserap dengan melenceng oleh wanita Asia (dan banyak lokal lainnya) sebagai semangat invasi dan ekspansi kekuasaan.

Ini saya ambil kutipan Fons Tuinstra, presiden di China Speakers Beurau, “In Shanghai, women have a whole set of techniques to domesticize their men and letting them carry the bag is a way to show the outside world they have succeeded.

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
Itu sebabnya pria-pria Shanghai beradaptasi diri sehingga cenderung terlihat lebih pengalah, lebih ‘feminin’ kalem, lebih menyukai hal-hal detil, lebih bersedia mengerjakan urusan domestik/rumah, dan lebih pengertian dan menghargai wanita (bahkan dengan berlebihan) dibandingkan pria-pria yang berasal di Cina bagian utara seperti Beijing yang agak tradisional, erat dengan militerisme dan kegiatan kepriaan lainnya. Berkat bantuan inspirasi gelombang feminisme, Wanita Asia kini semakin teredukasi menampilkan kesejajaran gender (yang disalah mengertikan jadi Feminitas Yang Maskulin), sementara pria Asia pun terus teropresi menjadi Maskulinitas Yang Feminin.

Di budaya Cina modern ini, kaum pria malah semakin terbiasa menerima dan berani menampilkan femininitasnya, berjalan dengan rapih manis, mendandani dan membentuk rambutnya, serta merawat jari dan kuku-kukunya. “Chinese boys are now emotionally more vulnerable than girls. Our boys are becoming more girly. They grow up imitating gender-ambiguous pop icons culture influences instead of trying to take on more traditional male roles,” demikian tulis Sun Yunxiao, seorang profesor di Teenager Research Center, dalam bukunya yang berjudul Save The Boys.

Minimnya keberadaan dan interaksi yang sehat dengan figur pria dewasa (alias ayah) membuatnya seorang anak laki-laki tumbuh menjauh dari hak dan kenyamanannya untuk menjadi maskulin. Hal tersebut masih diperparah lagi dengan “the overprotection of the mother is another factor that makes Chinese boys more feminine,” dijelaskan Sun Yunxiao.

Kebanyakan ayah kita sibuk di pekerjaan atau malah sekaligus tidak bertanggung jawab, itu sebabnya segala sesuatu yang kita ketahui adalah hasil ajaran ibu kita yang berenergi feminin. Saya lihat ini terjadi bukan cuma di Cina, tapi juga di seluruh Asia. Termasuk generasi pria Indonesia yang terbukti makin ke sini makin terlihat childish, lembut, dan mellow. Lihat saja daftar lagu-lagu band pria yang sekarang menjamur, penuh sensitifitas dan kegalauan!

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
Kembali ke soal membawakan tas kekasih, semakin banyak pria yang merasa harus melakukan hal itu untuk membuktikan dirinya sebagai pria yang sensitif dan pengertian. Kebiasaan itu juga diperparah dengan semakin banyak wanita yang merasa harus meminta perlakuan seperti itu sebagai pembuktian seorang gentleman. Seperti yang digambarkan dalam parodi satir Why Chinese Girlfriends Are Superior, membawakan tas kekasih kini sudah menjadi kewajiban seorang pacar di berbagai pelosok Asia seperti Cina, Korea, Jepang, Singapura, Filipina, Malaysia, dan kini juga termasuk Indonesia.

Ada banyak sekali tuntutan perlakuan dan fasilitas yang harus dipenuhi oleh seorang pria untuk membuktikan bahwa dirinya Pria Sejati, Pria Dewasa, Pria Bertanggungjawab.. atau dengan istilah yang sering dipakai: Gentleman. Tanpa disadari, percintaan kini menjadi sebuah hak wanita dan kewajiban pria. Itu salah satu alasannya mengapa salah satu teman saya yang berwarganegara Singapura mengaku tidak mau berpacaran. “I could not afford a girlfriend right now, girlfriends were simply too expensive!” katanya.

Bagian Kedua – Kultur dan Makna Gentleman di Barat

Benarkah deskripsi seorang gentleman itu persis seperti yang digambarkan oleh banyak wanita jaman sekarang? Benarkan gentleman adalah pria yang baik, lemah lembut, peduli, dan pengertian pada kekasihnya? Tempo hari saya sudah pernah menulis Mengungkap Arti Gentleman Sebenarnya. Silakan baca dulu artikel tersebut karena tulisan blog ini akan melanjutkan pembahasan dan pemahaman di sana.

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih

Ada alasan yang kuat mengapa ketika menyebut istilah gentleman, wanita sering membayangkan seorang ksatria dengan perlengkapan baju perang besi mengkilat dan kuda jantan putih. Karena memang demikianlah gambaran gentleman yang sebenar-benarnya, yakni kurang lebih pada tahun 1200an lalu. Di era itu, istilah gentleman berarti seorang pria yang mapan secara finansial alias tidak perlu bekerja untuk menghidupi dirinya lagi.

Kekayaan seorang gentleman didapatkan dari dirinya (atau ayahnya) yang bekerja sekian tahun sebagai prajurit/ksatria kerajaan yang berperang, menginvasi kerajaan seberang, dan membunuh atas nama Raja untuk tujuan-tujuan politis. Kekayaan itu bisa cukup besar sehingga dia membeli banyak tanah dan properti untuk disewakan, pensiun dari keprajuritan dan akhirnya menurunkan kekayaan tersebut pada anak-anaknya. Mereka terlahir langsung sebagai gentleman alias para pria bangsawan yang memiliki status/prestise terhormat karena kekayaan dan kepemilikannya.

Jadi pada saat itu gentleman mengacu pada jenis ikatan pekerjaan kerajaan, keadaan ekonomi, status sosial seseorang di masyarakat. Mereka biasanya adalah pria yang keras brutal (jika ia masih generasi pertama yang terlibat dalam peperangan), kompetitif, dingin, penuh perhitungan, dan hidupnya eksklusif alias tidak sembarangan bergaul dengan kelompok yang lebih rendah dari mereka.

Para gentleman generasi pertama (yang masih sempat bekerja sebagai ksatria/prajurit) tentunya berkarakter kompetitif dan keras. Sementara generasi kedua dan seterusnya sudah hidup dalam gaya hidup yang elit, mewah dan serba nyaman. Seperti pepatah di Cina, “The first generation builds the wealth, the second generations lives like gentlemen.

Saya ingin kamu membuka mata lebar-lebar. Jelas penggunaan istilah gentleman aslinya tidak terhubung dengan kebaikan, kelemahlembutan, atau pengertian seperti yang beredar secara populer sekarang ini. Istilah ‘gentle‘ pada gentleman itu berarti memiliki ‘darah biru’ atau kelas sosial yang terhormat, BUKAN artinya baik atau lembut. Jika saya melirik ke budaya timur, konsep gentleman yang serupa juga terkandung dalam Confucianism dalam istilah j?nz? yang berarti ‘son of a ruler‘, ‘prince‘ atau ‘noble‘.

Itu sebabnya ucapan “Ladies and Gentlemen” itu sebenarnya adalah panggilan penghormatan kepada ‘Tuan dan Nyonya’ yang memiliki pengaruh tinggi di masyarakat, bukannya sebutan biasa yang diberikan kepada sembarang pria dan wanita atau bapak dan ibu seperti yang kebanyakan kita pikir.

Nah, perhatikan hal-hal di atas dengan seksama. Ada satu hal penting yang sangat menarik. Sadarkah kamu bahwa penyebutan gentleman di sana tidak pernah tersangkutpautkan dalam hal interaksi pria-wanita? Mereka menjelaskan gentleman sebagai sesuatu yang maskulin, independen alias terlepas dari unsur keterkaitan dengan wanita. Gentleman digambarkan sebuah label yang pria pakai untuk mengenali dan menghormati pria-pria lainnya di tatanan kerajaan, politik, ekonomi dan bisnis.

Gentleman adalah ukuran seorang kewibawaan pria saat diteguhkan dan dibandingkan dengan sekelompok pria lainnya.

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
Jadi sejak kapan istilah gentleman jadi ukuran maskulinitas yang diteguhkan dan diberikan oleh sosok feminin? Sejak kapan gentleman diobservasi berdasarkan bagaimana interaksi seorang pria terhadap lawan jenisnya? Kenapa kini penjelasan tentang kesempurnaan dan kesejatian pria malah harus dinilai dari pola perilakunya terhadap wanita?

Pasti ada banyak faktor yang terjadi, dan salah satunya adalah The Reform Act 1832 yang memicu perubahan keadaan politik-ekonomi Eropa. Istilah gentleman tidak lagi mengacu pada status kemapanan, melainkan bergeser pada potensi, edukasi, dan perilaku seseorang. Dalam revolusi perdagangan dan industri di tahun 1700-1900an, istilah gentlemen juga diperlebar kepada para pria dengan profesi yang dianggap membutuhkan intelektualisme tinggi, seperti pekerja hukum, medis, dan juga pedagang besar alias businessmen.

Jika sebelumnya gentleman adalah peringkat yang diberikan hanya pada orang yang bekerja untuk kerajaan atau terlahir di keluarga yang elit, kini berubah pada kalangan menengah yang mampu berinteraksi dan berfungsi dengan baik di masyarakat umum. Berikut saya kutip dari buku Guide For Modern Gentleman:

A gentleman was originally a man who was ‘gentle’- meaning someone who had no need to work. The word evolved along with the economic system. The gentry evolved a system of ethics to avoid being slaughtered by their serfs as was happening elsewhere in Europe. This involved treating others with respect, and cultivating a specific form of modesty. This was not true modesty but just acts involved in establishing status by making great play of being disinterested in it.

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
Artinya seseorang bisa disebut gentleman hanya dengan menunjukkan sikap-sikap tertentu yang melambangkan kerendahan hati. Sikap-sikap yang melambangkan kerendahan hati. Hmmm, bukankah itu dalam istilah kita yang lagi heboh belakangan ini adalah.. pencitraan?

Jadi definisi seorang gentleman sudah melebar termasuk pada siapa saja yang bisa mencitrakan kepribadian yang baik, sopan, tidak mengambil keuntungan sepihak, mengalah, tidak memaksakan kehendak, dsb. Para gentleman yang orisinal memang punya nilai-nilai demikian dalam keluarganya, namun kini keelitan mereka jadi tercemari oleh orang-orang melakukan pencitraan agar dianggap sebagai seorang pria yang berkelas alias gentleman. Sebelumnya gentleman hanyalah pria-pria keras, kuat, petualang, pejuang, dan terhormat yang hidup dengan nilai-nilai elit kebangsawanan.

Semenjak pasca reformasi tahun 1800an itu, kemurnian status gentleman itu dinodai oleh pria-pria yang gemar mengenakan topeng-topeng moral untuk mencapai pengakuan dan kepentingan pribadinya. Dan tidak heran hari ini, lebih dari 200 tahun kemudian, sudah jadi kebiasaan mendarah daging bagi banyak pria untuk berpura-pura gentleman demi menggaet lawan jenis.

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
Pergeseran kancah politik-ekonomi pada saat itu juga dibarengi kemunculan gelombang budaya Romantiscism atau Romantic Period di seluruh dataran Eropa yang menentang pemilahan kelas-kelas aristokrasi sosial. Era Romanticism mengkritik era pencerahan sebelumnya yang begitu kaku, keras, dan dingin. Itu sebabnya manusia di Romantic Period berusaha membangkitkan kemanusiaan lewat unsur-unsur yang sentimental, seperti musik, puisi, lukisan, drama,filosofi, dan literatur seni lainnya.

Era sebelumnya adalah era maskulin, otak dan rasional, era romantisme dianggap sebagai feminin, era hati dan emosional. Saya pikir bukan kebetulan juga pada era yang ini wanita jadi lebih ekspresif dalam menulis dan menyuarakan diri, seperti dengan kemunculan tulisan A Vindication of the Rights of Woman yang memperjuangkan keberadaan wanita.

Kebiasaan pencitraan diri dan peningkatan kesadaran akan feminitas.. ini memang terkesan simplistik, tapi sepertinya kedua hal tersebutlah yang mendorong istilah gentleman hingga akhirnya di era modern ini jadi semakin terfokus pada penataan sikap dan pola perilaku pria terhadap wanita. Tekanan dari kaum feminis yang sudah menginfiltrasi berbagai media massa semakin membuat kaum pria terpojok dan terus berusaha ‘memperbaiki kesalahan-kesalahan maskulinitasnya’ yang dahulu penuh tercoreng dalam penindasan akan figur wanita.

Banyak pria di seluruh dunia menyadari keburukannya ini, meminta maaf dengan berbagai cara, serta memulai awal yang baru dengan standar baru yang kelihatannya lebih indah: yaitu validasi standar (alias menyenangkan dan mengikuti) dari kaum wanita. Entah sejak tahun berapa dan sudah lewat berapa ratus generasi kaum pria  berusaha menebus kesalahan nenek moyang kita yang melukai wanita. Tapi melihat sistem dinamika percintaan modern ini, sepertinya kaum wanita masih belum bersedia menyudahi drama propaganda dan dendam amarahnya.

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
Contoh nyata adalah dalam dunia cinta modern, semua pria diwajibkan untuk membuktikan dirinya sebagai seorang gentleman dengan sikap-sikap tertentu pada sang wanita: saat PDKT, sang pria diekspektasikan untuk aktif mendekati, mengajak kenalan atau memulai percakapan lebih dahulu, bertutur kata sopan dan menyenangkan, mengajak kencan, menjemput dan mengantar pulang, membukakan pintu dan kursi, memberikan hadiah-hadiah kecil, membayar makan malam atau aktivitas kencan lainnya, mengucapkan hal-hal yang manis dan romantis, mengalah dan meminta maaf jika ada kondisi eksternal yang kurang menyenangkan, dan masih banyak lagi. Jika sudah melakukan itu semua.. saya ulangi, JIKA sudah melakukan itu semua, barulah sang pria bisa diberikan pengakuan oleh sang wanita sebagai seorang gentleman.

Sementara bagaimana dengan sang wanita?

Mereka menginginkan seorang pria gentleman. Mereka berekspektasi agar pria bisa membuktikan dirinya sebagai pria dengan daftar citra perilaku yang luar biasa panjangnya. Tapi apakah yang harus mereka lakukan untuk layak mendapatkan gentleman itu? Jika wanita modern menuntut pria menjadi sesuai standar gentleman yang ditentukan oleh wanita, bolehkah pria modern menuntut wanita menjadi sesuai standar lady yang ditentukan oleh pria?

Atau dengan pendek, apakah seorang wanita juga bersusah payah mencitrakan dan membuktikan dirinya sebagai seorang lady agar layak dan seimbang didekati oleh seorang gentleman?

Biasanya tidak.. saya ulangi, biasanya tidak.

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
Jadi saya kembali lagi ke pertanyaan di awal, apakah benar seorang gentleman itu adalah pria membawakan tas kekasihnya? Apakah benar salah satu nilai atau kriteria seorang gentleman itu membawakan tas kekasihnya? Apakah benar membawakan tas kekasih adalah sebuah kebanggaan seorang gentleman?

Jika menuruti artian gentleman sebenarnya yang sudah saya kupas dari tadi, jelas tidak. Bisa terbayangkah oleh kamu sosok seorang ksatria perang berbaju zirah perak berjalan dengan memegang pedang terhunus di tangan kanannya serta menjepit sebuah handbag merah muda milik sang kekasih di bahu dan lengan kirinya?

Ada tiga poin utama yang saya sajikan dalam sentilan ringan tapi panjang ini. Ini bukan tulisan serius ataupun tulisan ilmiah; hanya sebuah sentilan untuk membuka wawasan dan pemahaman.

Pertama, hargai peranan/energi kamu masing-masing dalam sebuah hubungan cinta. Pria bertanggungjawab untuk energi maskulin, wanita bertanggungjawab untuk energi feminin. Memang sesekali pria perlu mengaktifkan sisi femininnya, tapi lakukan dengan alasan yang benar dan kadar yang tidak berkelebihan.. sebagaimana wanita juga perlu mengaktifkan sisi maskulinnya dengan ukuran yang sama. Jika kamu mengacaukan pembagian peranan dan energi ini, maka jangan heran hubungan cinta kamu jadi berat atau kurang menyenangkan.

Seorang wanita yang memintanya pasangannya membawakan tas tangannya, padahal dia sendiri tidak keberatan atau terganggu dengan tas tersebut.. itu adalah tindakan yang tidak bertangungjawab dan mengacaukan keharmonisan yin-yang.

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
Kedua, jangan secara buta mengikuti apa yang ditunjukkan oleh tradisi dan trend budaya karena itu belum tentu baik dan sehat. Seperti sudah kamu pelajari barusan, standar gentleman modern ini ternyata penuh dengan kesimpangsiuran, pelencengan, dan propaganda. Gentleman itu sama sekali tidak seperti yang orang banyak pikir. Jadi sebelum kamu menuntut diri sendiri atau kekasih menuruti sebuah standar perilaku yang banyak dilakukan orang lain, pelajari dulu dengan baik latar belakang dan dampak-dampaknya dalam hubungan.

Biasakan diri kamu untuk lucid love dan lucid relationship, alias belajar membangun hubungan cinta dengan kesadaran dan kedewasaan berlogika, bukannya dengan sekedar mengikuti apa kata tradisi dan apa kata orang. Restrukturisasi inilah yang saya lakukan pada pria Indonesia sejak tahun 2006 lewat revolusi Hitman System dan wanita juga bisa ikut merevolusi dirinya lewat gebrakan kelas Lovable Lady di tahun 2012 nanti.

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
Ketiga, pria jadilah gentleman setiap saat dan wanita jadilah lady setiap saat. Lakukan hal-hal itu memang karena kamu memiliki penghargaan dan kebanggaan akan diri sendiri, bukan karena kamu ingin menampilkan pencitraan dan mengimpresi orang lain. Secara khusus bagi  para wanita, jika kamu mengharapkan kehadiran gentleman, mulailah dengan menjadi seorang lady yang menghormati dan memperlakukan pria sebagai gentleman.

Saya hanya berbicara pada wanita karena saat ini justru sepertinya wanita yang mulai aneh-aneh, mengekang, banyak tingkah dan menuntut. Karena sikap wanita yang begitulah jadi banyak muncul para ‘gentleman karbitan’ yang pencitraan di awal saja demi menarik hatimu. Saya yakin Gentleman Sejati itu belum punah, ia selalu ada terhimpit kerdil di dalam diri setiap pria, menunggu waktu untuk keluar.. yakni ketika para wanita berhenti bersikap maskulin dan kembali menjadi feminin.

Gentleman Itu Bawain Tas Kekasih
 

Ini bukan kritik sosial, melainkan sebuah wacana untuk introspeksi diri dan membuka pikiran. Banyak wanita Asia kini jadi oknum yang paling sering meminta/menuntut istilah gentleman (yang adalah istilah kaum Barat), padahal di negara Barat sendiri gentleman tidak berarti seperti yang mereka maksudkan.

Interpretasi atas emansipasi feminin di Asia jadi lucu dan melenceng. Karena bahkan wanita Barat pun, yang notabene lebih erat dengan akar budaya gentleman, tidak pernah menuntut sikap ‘membawakan tas’ dari pasangannya.

Menarik yah? 😉

So beloved ladies and gentlemen.. saatnya berubah!

 

Salam revolusi,

Lex dePraxis
 Twitter  Facebook


Meningkatkan Kharisma Diri

Meningkatkan Kharisma Diri

Apakah itu kharisma? Apakah seseorang harus terlahir dengannya, atau kita bisa belajar mendapatkannya? Darimana kita tahu apakah kita memiliki kharisma? Apa saja yang bisa membuat seseorang terlihat berkharisma? Hari ini Anda akan mendapatkan jawaban memuaskan dari pertanyaan di atas, sekaligus personal inner game secrets saya untuk meningkatkan kharisma Anda untuk keperluan sosial, bisnis, dan percintaan! Continue reading


Mencari Topik Obrolan Yang Tepat?

menciptakan kenyamanan cepat

Bagi sebagian orang, memasuki lingkungan sosial yang baru dan berinteraksi dengan orang asing adalah hal yang horor. Selain merasa seolah-olah disorot sepanjang waktu, mereka juga sering kebingungan mencari topik pembicaraan yang tepat untuk memecahkan balok es sosial. Jawaban saya adalah: lupakan ketepatan, carilah kesamaan. Continue reading


Mengapa Sulit Jatuh Cinta?

Pertama, menutup mata akan struktur intelejensia dan elemen sosial dinamika yang terkandung dalam cinta dan romansa. Setiap kali berbicara tentang cinta, umumnya manusia selalu menyelaraskannya dengan sejumlah konsep idealisme yang kompleks seperti Jodoh Di Tangan Tuhan, Cinta Sejati, Saling Melengkapi, Cinta Itu Mengalahkan Segalanya, Cinta Indah Pada Waktunya, Cinta Tidak Harus Memiliki, dsb. Akibatnya kita tidak dapat mengamati proses bercinta dari konteks yang realistis: yakni sebuah interaksi sosial belaka.

Sebagaimana interaksi sosial lainnya yang dilakukan sehari-hari -seperti berdagang, belajar, bekerja, berolahraga- ada sejumlah pola dinamika tertentu yang wajib diikuti bila seseorang ingin menemui kesuksesan dalam kehidupan cintanya. Pola dinamika tersebut jarang sekali disentuh, atau bahkan diakui, karena beresiko merendahkan pandangan orang dan konsep tentang cinta. Pola dinamika yang sebenarnya bisa dibedah, dipelajari, dan disusun-ulang dalam bentuk langkah-langkah yang praktis. Continue reading