Bisikan tentang cinta, bangsa, dan dunia..

 

Bisikan tentang Cinta, Bangsa, dan Dunia

Banyak orang bertanya, “Jet dan Kei sudah sering komentar di twitter soal kondisi politik nasional dan internasional. Kok elo engga ada berkomentar apa-apa, Lex? ” Jawaban saya pendek: ada kok, tapi jarang dan selalu terselip dalam bisikan halus di sana-sini.

Kenapa diselip halus? Kenapa tidak sering? Jujur, karena saya (amat sangat) malas ikut menjejakkan diri di ranah itu. Sumber daya saya terbatas, sehingga saya tidak selalu bisa (ikut) merevolusi segala sesuatu. Keterbatasan itu masih ditambah lagi dengan kejengahan saya yang menjadi-jadi: saya melihat pertempuran frontal, timpuk-timpukan, dan saling menjegal. Ikut bersuara, walaupun sekedar menyebarkan informasi, hanyalah akan menambah kebisingan.

Dalam peperangan psikologis, informasi adalah senjata, jadi mendebat/menambah/menyebarkan informasi sebenarnya tidaklah menyelesaikan, justru makin memperkeruh jika manusianya tidak mumpuni. “Information is a negotiator’s greatest weapon, ” kata Victor Kiam, tapi sayangnya informasi lebih sering dipakai untuk menyerang daripada bernegosiasi. Pihak seberang selalu memiliki informasi versi dia sendiri, jadi setiap peluru kritik/koreksi pasti akan dibalas dengan peluru-peluru serupa. Itu sebabnya saya selalu enggan melibatkan diri dengan teman-teman yang berusaha mengumpulkan, menjernihkan, menyebarkan informasi. Memang ada kalanya diperlukan bentrokan informasi dalam bentuk dialog dan perdebatan, tapi saya pribadi merasa mayoritas warga negara Indonesia maupun calon pemimpinnya belum memiliki cukup kemampuan berdialog dan berdebat sebagaimana mestinya.

Jadi saya sepenuh hati meminta maaf pada teman-teman yang merasa saya seolah tidak mendukung usaha-usaha mereka dalam distribusi informasi untuk perbaikan. Menurut saya, musuh bukanlah pihak seberang: musuh sebenarnya adalah kebodohan, kepicikan, kefanatisan. Ketiga hal tersebut ada di setiap pihak yang berperang. Itu sebabnya sekedar (mendebat/menjernihkan/menyebarkan) informasi tidak banyak membantu jika mayoritas orang masih bodoh, picik, dan fanatik. Contoh sederhananya adalah respon orang-orang terhadap acara debat debus pilpres tempo hari.  Konten dialog tidak seberapa -bahkan berantakan- tapi di social media para suporter masing-masing pihak meresponi dengan gegap gempita, merasa unggul, serta membuat analisa penguatan-silang yang ditarik kemana-mana padahal tidak dimaksudkan begitu oleh pembicara sebenarnya.

Apakah mendebat dan mengoreksi infomasi tidak ada gunanya? Apakah menjelaskan dan mengklarifikasi percuma? Jelas setiap usaha pasti ada hasilnya, saya hanya merasa tidak nyaman bergerak di sana. Kalaupun mau agresif, serang pola berpikirnya, bukan informasinya. Menurut saya, hal yang orang sangat perlukan adalah (lebih banyak) edukasi, bukan (lebih banyak) informasi. Edukasi dimulai dari mengosongkan gelas, bukan sibuk mengisi. Edukasi selalu memicu ketidaknyamanan bagi diri dan memaksa diri berpikir ulang, tidak seperti informasi yang biasanya sibuk mengklarifikasi ataupun ‘menelanjangi lawan’. Edukasi juga berarti skeptisisme dan kebersediaan untuk mengungkap kelemahan/keterbatasan pihak sendiri demi menemukan solusi bersama, bukan sibuk bela-diri dan pamer prestasi.

Kita perlu berhenti sibuk berpihak dan berteriak ‘dizolimi’, berhenti memaki mengecam mengutuk, berhenti memusingkan ‘siapa yang memulai duluan’ , berhenti meributkan ‘siapa yang mencurangi’, dsb. Kita perlu bertanya, “Apa yang saya/pihak-saya/kepercayaan-saya sudah lakukan sehingga sampai memperparah keadaan dan bagaimana menghentikannya?” Dalam kelas Revolusi Wanita, saya mengajarkan pentingnya kebiasaan mempertanyakan pihak/keyakinan/pilihan sendiri, bukannya membela diri maupun menyerang yang-lain. Menurut saya, kecerdasan bertumbuh dari kebiasan tersebut. Jika kamu tidak bisa mepertanyakan, meragukan, mengkritik, dan meledek diri/kepercayaan/pilihan sendiri, maka sebenarnya kamu tidak senetral, sedewasa, secerdas yang kamu pikir!

Mirisnya, sejauh ini distribusi informasi politik nasional & internasional di media sosial mayoritas berbau bela-diri dan menyudutkan-lawan. Informasi demikian menciptakan kebisingan, siklus balas-membalas, dan tidak mengurangi friksi, justru melestarikan kebodohan dan fanatisme. Kenapa bisa begitu? Karena masih banyak orang yang tolol, fanatik dan/atau malas berpikir: mendapat info sedikit, langsung percayaan dan reaktif sesuai letupan emosinya. Makanya menambah informasi, seringkali malah mengipas emosi dan menambah percikan api. Awan panas yang kita rasakan membayangi saat ini adalah efek gesekan (mis-)informasi yang saling berkelebat di udara sehari-hari. Sialnya lagi dalam konteks politik, amat sulit sekali menayangkan informasi yang benar-benar benar karena kebenaran sejarah ditulis oleh pihak yang benar menang. Memverifikasi kebenaran informasi itu sama sulitnya -jika tidak lebih sulit- dibanding meresponi informasi tersebut dengan benar. Jadi sekedar menyebarkan tautan berita, artikel blog, apalagi twitpic, jelas tidak memiliki cukup konteks untuk mengedukasi.. semua itu hanya berteriak dan berorasi memberi menyuapkan informasi, seperti preaching to a choir.

Saya mengerti tentang dinamika politik, tapi saya terlalu malas dan lelah untuk ikut(-ikutan) menyebarkan informasi, apalagi mengedukasi di ranah itu. Saya tidak apatis, saya hanya skeptis dengan model perang informasi frontal. Makanya saya cenderung tidak bersuara, cuma berbisik halus beberapa kali, dan mempercayakan agresi perjuangan radikal pada teman-teman saya yang lebih cerdas di ranah itu daripada saya. Dengan demikian, saya bisa lebih fokus di ranah saya saja yaitu menyebarkan insepsi dan edukasi pola berpikir cerdas dalam kedok revolusi cinta. I’m a lover, not a fighter.. boro-boro berperang, jalan-cepat di treadmill dalam ruangan ber-AC saja saya megap ngos-ngosan. 😀

Dengan waktu dan tenaga yang terbatas, keterlibatan saya dalam peta perjuangan politik lebih baik difokuskan pada area kecil saja: edukasi cinta. Semenjak tahun 2006, saya sudah melihat ribuan bukti nyata bahwa orang-orang yang belajar tentang realita, logika, dan romansa bisa berkurang drastis bodoh, picik, dan fanatisnya. Itu semua karena kelas Revolusi Pria membahas berbagai strategi sektarian, mind control, mass brainwashing, covert social engineering, dsb yang terjadi dalam konteks budaya cinta. Harapan saya adalah edukasi itu cukup kuat berakar sehingga mereka bisa pakai dalam area lainnya, seperti pilihan moral dan politik. Semua ilmu dinamika sosial itu pasti bisa membantu para pembelajar agar mampu lebih cerdas dalam peta romansa sekaligus peta politik makro saat ini, karena orang cerdas sepenuhnya menyadari: memelihara kedamaian jauh lebih penting, mulia, berharga, daripada mengejar kemenangan. Saya pribadi juga jauh lebih percaya brain power daripada people power, karena people without brain is a revolution in vain.

Terima kasih telah menyimak bisikan hampa kosong melompong yang tidak ada pelajarannya sama sekali ini. Waktu kamu sudah terbuang sia-sia mencernanya, apalagi jika kamu sampai berpikir keras dan memutar otak berusaha memahami makna tersembunyi di setiap baris celotehan saya. Saya mohon maaf telah merampas 5 menit dari hidup kamu, tapi saya berjanji tidak akan melakukannya lagi, karena saya yakin kamu pasti kembali menyimak ulang beberapa bagian di atas dan merenungkannya.

(mau) Mengerti ataupun tidak (mau) mengerti, itu hak kamu.. kewajiban kamu hanya satu: spread the love!

 

If you want your kids to listen to you, don’t yell at them. Whisper. Make them lean in. My kids taught me that. And I do it with adults now.” -Mario Batali

 

Salam revolusi cinta,

Lex dePraxis
Love-Whisperer

Leave a Reply

  1. Itu tak terlepas dari kedewasaan pers dalam menyaring berita yang ‘naik cetak’ atau ‘naik tayang’. Saya berpikir pers kita masih terbelenggu dengan yang namanya D U I T sehingga sulit sekali membedakan mana pers yang masih independen sebagai pengungkap fakta dan mana yang sudah ‘dipesan’ pihak tertentu sehingga beritanya di saring dengan tujuan untuk memuaskan si pemesan berita. Bahayanya pers yang tidak independen ini sangat masif karena terjadi pembodohan secara nasional atau mungkin internasional. Masyarakat digiring untuk memercayai hal-hal yang sifatnya masih sumir menjadi fakta sementara yang fakta sengaja ditutup2i atau sengaja tak diberitakan atau masyarakat ‘diajak’ mempermasalahkan hal-hal yang nggak penting dan melupakan hal yg lebih prioritas untuk dipikirkan.

  2. Akhirnya Lex bicara juga. Tulisan yang menarik dan gue setuju. Banyak yang melewatkan proses rasional berpikir dan langsung pada cinta buta fanatisme yang akhirnya berujung pada bias dalam menyerap informasi. Btw, kenapa blog ini tidak ada share button ya? Tambahin dong supaya readers yang mau sharing ke socmed bisa lebih mudah.