Revolusi di Surabaya

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis blog. Entah kenapa saya terpanggil untuk menulis hari ini. Sekaligus ingin mengabarkan keadaan Surabaya yang belum lama ini saya singgahi bersama Jet.

Untuk pertama kalinya Saya menginjakkan kaki ke Surabaya, ketika itu Saya menerima sms dari Iverie alumni yang berasal dari Surabaya yang berisi “Sins, selamat datang ke Surabaya, tar lo bakal ketemu cewe – cewe cantik kawai tapi kalo ngomong kaya tukang somay dekat rumah”. Seketika itu Saya langsung tertawa terbahak – bahak dan memberikannya kepada Jet agar dia dapat menikmati candaan ini. Seketika itu kami tertawa terbahak- bahak bersama. That’s a great joke before starting our Mega Seminar.

Saya terbahak bukan bertujuan untuk menghina bahasa Jawa ataupun tukang siomay, namun pengaturan kata – kata dari iverie yang sangat bagus yang membuat kami dapat membayangkan seorang wanita cantik dengan tutur bahasa tukang siomay. Bahkan ketika Leith (alumni Surabaya) menjemput kami pun, saya memberitahukan kepadanya dan hasilnya sama. Dia pun tertawa terbahak – bahak.

Malam itu Saya dan Jet langsung di ajak oleh Leith ketempat nongkrong gaul di Surabaya bernama G – Walk. Wow.. Glossy Walk Ey ? Dan ternyata di G – walk merupakan nama daerah yang memiliki deretan tempat makan yang sangat panjang. Awalnya saya ingin melihat semua jenis makanan yang ada, namun setelah berjalan setengah perjalanan dengan perut lapar dengan dikelilingi dengan aroma, judul dan gambar makanan, belum lagi melihat masih panjangnya jalan yang harus saya lewati untuk melihat semua makanan. Saya pun menyerah.

Masa Saya harus mati kelaparan di tengah lumbung padi ?

Sampailah di satu tempat yang terlihat cukup ramai, kami memutuskan untuk mencoba makanan disana. Saya memesan mie begitupula dengan Jet, dan beberapa cemilan khas Surabaya.  Dan ternyata ukuran Mie yang Saya dan Jet berukuran RAKSASA. Setelah menghabiskan pesanan tersebut dan merasakan kenyang karena Kuantitas. Kami pun pulang untuk melihat ulang materi yang telah kami tambahkan. Kemudian kami beristirahat dan bersiap untuk hari esoknya.

Setelah bersiap –  siap kami pun turun untuk sarapan kami bertemu dengan peserta yang datang jam 8 pagi!! Padahal seminar mulai jam 9.15. Niat Anda sampai ke kami nak! Great job.

Ketika dimulai saya dan Jet merasakan sedikit keanehan dimana peserta lebih pasif dari biasanya, tidak tahu apa yang terjadi. Apakah mereka ngantuk karena tidak sempat tidur karena tegang memikirkan hari ini. Saya pun menanyakannya kepada Leith dan ternyata hal seperti ini terjadi setiap seminar apapun.

Suatu tantangan yang menarik bagi Saya dan Jet untuk mengubah suasana menjadi lebih menarik. Tension dan pembawaan kami tinggikan sehingga ruangan yang tadinya sejuk menjadi lebih panas. Operator pun kebingungan karena sudah menyalakan 3 AC dengan suhu terendah namun suhu ruangan tidak mendingin. Kondisi seminar menjadi lebih kondusif dan seru! Ditambah dengan kedatangan seorang wanita cantik dan menarik yang membantu kami sebagai fashion panelist yang merupakan teman lama Leith Kasava. Setelah terjadi perubahan paradigma besar dan pembantaian dalam bidang fashion.

Kami pun masuk ke titik terakhir yang kami persiapkan khusus pada seminar ini. Titik dimana setiap peserta akan merasakan setiap materi merasuk dan merasakan brotherhood. Setelah kami memperkenalkan dan berterimakasih kepada Leith atas berjalannya acara Mega Seminar ini, Mega Seminar Surabaya ditutup. Setiap peserta berdiri dan memberikan tepuk tangan dan berkenalan satu sama lain.

Tidak kami sangka mereka langsung mengakrabkan diri dan berjanji untuk membantu satu sama lain dalam perubahan baru ini. Dan tanpa kami sadari jam sudah menunjukkan jam 7. Setelah berfoto sejenak Saya dan Jet kebelakang untuk mengatur rencana selanjutnya, kemudian datanglah salah satu peserta yang ternyata guru Piano (Damn, gw pengen banget bisa maen piano).

Dia bertanya kepada kami apakah kami percaya kepada keberuntungan ? “yeah” jawab  saya. Dia mengeluarkan 2 buah koin yang sangat unik yang ternyata berasal dari brazil (Guru piano dan pernah hidup 1  tahun di brazil, more DAMN. hahhaha)dan memberikannya kepada Saya dan Jet. Tapi itu bukan sebagai tanda terima kasih. Namun dia meminta kami untuk memegang koin itu sebagai janjinya.

Dia berjanji ketika kami bertemu dengannya dia akan berubah secara keseluruhan sampai kami bahkan tidak mengenalinya. Keinginannya untuk berubah benar – benar tampak dalam tatapan matanya. Namun dia berkata “ tapi ada 1 yang gak berubah…. OUR BROTHERHOOD”. Sweet!!! Janji dan keinginan itu tidak datang begitu saja. Saya dan Jet sangat senang melihat niat salah satu peserta kami yang baru saja menyelesaikan Seminar kami.

Hari itu Saya dan Jet berkumpul di Sutos untuk makan malam dan berdiskusi tentang kelas spesialiasi Jet. Supreme Influencial Communication. Dan juga membahas pekembangan Group Hitman System di Surabaya bernama Glory.

Keesokan setelah membeli sedikit oleh – oleh kami pun pulang dengan perasaan senang dan lelah. Disambut dengan acara ulang tahun Yuki. Kami pun mengadakan acara BBQ dan bercanda tawa serta berbagi pengalaman yang terjadi selama seminar.

GREAT WEEKEND, GREAT STUDENTS, GREAT BROTHERHOOD.

What more u can ask.

Hari itu Saya menutup mata dengan sangat bahagia atas apa yang telah terjadi dan atas apa yang telah kami lakukan dibawah nama Hitman System.

 

Sins Aeschylus

 


This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

19 Responses to Revolusi di Surabaya

  1. Guys… Baru tahu kalau di Surabaya ada Glory.
    Kenapa tidak membuat sebuah blog atau apa, sehingga kalau ada kegiatan saya bisa tahu dan jika kebetulan ada waktu saya kan senang tuk bergabung…

  2. Yeah bro, q jg ngerasain atmosfer BROTHERHOOD yg ga pernah q rasain di kantor atopun lingkunganq. Saat kita bs benar2 menemukan Brother yg bs saling mendukung satu sama lain dan menghibur saat kita down. Q bersyukur sekali bisa bolos kerja dgn alasan sakit, krn sdh menunggu 1 tahun utk bs ikutan HSMS Sby 20 Nov kmrn dan memulai transformasi menjadi the “New Me”.. Gonna rock the world along with Glory and Snipers!

    nb: setuju ma statementmu Sins, cica di Sby penampilan mirip Ayumi tp ngomongnya mirip tukang siomay ^^
    Your new bro,
    Jaxx

  3. Walaupun Surabaya sudah menjadi kota semi metropolis dan kota yang cukup panas tetapi rasa gotong royongya masih melekat dalam kehidupan bermasyarakat, semoga sukses ya…seminarnya?

Leave a Reply to Wildan Cancel reply