Langsing Itu Cantik dan Seksi?

Beberapa waktu yang lalu saya pernah mensurvei ukuran figur wanita yang disukai oleh pria. Mayoritas responden memilih dengan tegas figur wanita yang di tengah, disusul figur wanita kanan, lalu terakhir figur wanita kiri. Mayoritas responden adalah pria, jadi bisa dibilang kaum pria lebih menyenangi wanita-wanita yang cenderung berisi (atau gemuk) dibandingkan yang kurus. Hasil survei sederhana ini juga ternyata sejalan dengan hasil survei yang dilakukan oleh majalah FHM terhadap 60,000 responden.

Lalu demi Tuhan kenapa para wanita yang jadi gebetan dan/atau pacar kita suka komplen kalau dirinya gemukan? Mereka sibuk menurunkan berat badan, mengatur diet, menahan nafsu makan, dan berbagai ritual pengecilan tubuh lainnya itu dilakukan untuk siapa? Mereka bersikeras menampilkan tubuh yang langsing agar menarik dan seksi menurut siapa? 😉

JELAS BUKAN UNTUK PRIA!

Sesuai survei di atas, terbukti pria lebih suka yang tubuh wanita yang berlekuk, berlemak, berisi atau gempal.. atau istilah saya ‘cabbi’. I love curvy and chubby girls, dan saya yakin saya sama sekali tidak sendiri dalam hal tersebut. Sepanjang hidup saya sampai hari ini jarang sekali mendengar pria yang tidak menyenangi ke-cabbi-an wanita. Itu karena secara genetik, pria terprogram untuk mencari wanita dengan bentuk tubuh yang berlekuk (kadang disebut seperti gitar, biola, jam, pasir, atau sejenisnya) karena dianggap memiliki indikator kesehatan yang prima.

Menurut kajian psikologi evolusi, pria diprogram secara genetik untuk tertarik pada wanita yang terlihat paling subur. Titik-titik fokus kesuburan biasanya tercermin pada ukuran buah dada dan pantat yang besar, serta keberadaan lemak pada bagian-bagian lainnya. Salah satu ‘tanda’ kesuburan lainnya adalah pinggang yang lebar karena itu memungkinkan kemudahan saat melahirkan bayi. Hal-hal tersebut terjadi secara otomatis dalam kode genetik dan alam bawah sadar pria, sekalipun dia tidak pernah mempelajari ataupun mengetahuinya sama sekali.

Preferensi akan intensitas cabbi mungkin berbeda-beda. Ada pria yang suka wanita yang bertubuh gempal padat, ada yang suka gemuk bertumpuk, ada yang suka bundar bola membal-membal, dsb. Itu semua cuma soal selera. Preferensi distribusi ke-cabbi-an juga bisa berbeda-beda. Ada pria yang cuma suka di wanita berpipi cabbi, ada yang cuma suka di cabbi pundak dan lengan atas, ada yang suka di dada, pantat, dst. Intensitas dan distribusi yang tepat akan menghadirkan lekukan yang mempesona bagi mata pria.

Bukan saja lemak disukai oleh pria, tapi sebenarnya lemak pun sangat esensial dalam biologi wanita dan diperlukan dalam keberlangsungan hidupnya. Secara rata-rata, wanita memiliki 6-11% lebih banyak lemak dibandingkan pria karena salah satu efek hormon estrogen adalah mengurangi kemampuan wanita untuk membakar energi sehingga lebih banyak lemak disimpan dalam tubuh.

“Setelah pubertas, tingkat estrogen wanita terus meningkat demi menciptakan penampilan yang sehat subur agar bisa menarik perhatian lawan jenis, dan mempersiapkan lingkungan yang tepat untuk kehadiran fetus dan kondisi menyusui,” demikian kata Anthony O’Sullivan, seorang profesor dari St George Clinical School. Wanita harus memiliki sekitar 20% lemak di tubuhnya agar bisa berovulasi dengan baik dan hamil. Lemak-lemak yang bertumpuk di bagian kaki (pantat, paha, betis) berfungsi untuk menyimpan energi yang diperlukan saat menyusui.

Stephen Stearns, seorang profesor di Yale University, melakukan studi terhadap 5,209 orang sepanjang 60 tahun dan menemukan pola estimasi bahwa wanita di masa depan secara alamiah akan semakin menggemuk, lebih dini mengalami menstruasi dan lebih lambat mengalami menopause, sehingga memiliki jendela masa reproduksi yang lebih panjang. Ini kurang lebih menyatakan bahwa wanita yang memaksakan dirinya untuk kurus langsing berarti sedang menentang kode-kode alam yang ada di dunia ini.

SESUNGGUHNYA, WANITA PERLU CABBI!

William D. Lassek menulis buku yang menarik, Why Women Need Fat, dan berikut saya kutip pendek: “Evidence from all over the world suggests that men strongly prefer women who have a lot of body fat (roughly 30 percent of their body weight) and whose body fat is distributed in a particular way, with very little in the waist but much more in the hips, buttocks and thighs, producing a small waist-hip ratio.” Ini bukti bahwa kelebihan berat tidak membuat wanita jadi ‘cacat’, justru membuat Anda tampak hebat jika bisa Anda posisikan di lokasi yang tepat.

Tumpukan lemak membuat tubuh wanita terlihat lebih halus dan berlekuk tanpa-sudut. Lekukan tubuh pada bagian dada, pinggul, pinggang, pantat, dan paha yang disebabkan oleh kehadiran lemak justru mengindikasikan bahwa wanita itu sehat dan kuat untuk bereproduksi, itu sebabnya pria secara insting evolusi lebih tertarik pada figur demikian. Itu sebabnya kita bisa melihat adanya perbedaan signifikan antara para model fashion wanita di majalah wanita dan para model wanita di majalah pria.

Model di majalah wanita lebih menampilkan kelangsingan tubuh supaya bisa menonjolkan busananya, sementara model di  majalah pria lebih menampilkan kelekukan tubuh karena memang itu lebih menggairahkan. Wanita tidak menyadari ada standar ‘seksi’ yang berbeda antara majalah pria dan majalah wanita. Tubuh model wanita untuk majalah khusus pria (seperti Playboy) biasanya 36% lebih berlemak dan berlekuk dibanding tubuh model untuk busana wanita (klik untuk twit ini!). Itu sebabnya aneh sekali jika banyak wanita beralasan ingin tampil kurus langsing demi menjaga kekasihnya agar tidak selingkuh, padahal justru itu yang membuatnya jadi tergoda penampilan wanita lain.

Unfortunately, many women seem to believe that men find skinny women like fashion models especially attractive. In study after study, women consistently underestimate the amount of body fat that men prefer. When asked to predict the figure that men will find most attractive, women consistently choose a skinnier figure than the men actually prefer,” demikian tulis Lassek dalam bukunya.

Dalam studi yang lain, Steven Gaulin menemukan bahwa ada hubungan yang kuat antara rasio besar lekuk pinggul-pinggang seorang wanita dengan kemampuan berpikir anaknya. “The bigger a mother’s hips (relative to her waist), the smarter her offspring. With every decrease of 0.01 in a mother’s waist-to-hip ratio, her child’s average cognitive score is raised 0.061 points.” Alasannya adalah otak memerlukan banyak lemak bernama Omega3, dan lemak tersebut disimpan pada pinggul dan paha ibunya, persis seperti penemuan studi Profesor Anthony di atas.

Jadi jika saya ambil kesimpulan yang sangat simplistik berdasarkan data-data di atas, tubuh wanita justru perlu cukup cabbi agar bisa berkompetisi mendapatkan jodoh dan kemudian bereproduksi dengan baik. So ladies, WTF with all of your never ending obsession of a slimmer, thinner, more slender and fat-free body?

WANITA TERCUCI OTAK MEDIA!

Dalam setiap kelas Hitman System & Lovable Lady, saya menjelaskan bahwa wanita tampil seksi dan cantik bukan untuk pria, melainkan untuk berkompetisi dengan wanita-wanita lainnya. Itu bukan sembarang pendapat saya saja, tapi juga senada dengan pendapat editor majalah wanita Cleo, Nedahl Stelio, yang mengatakan, “Women did not diet for men but for other women. Most men I know would go for more boob over thinner thighs, but women, by nature, are competitive with other women. If the society and celebrity ideal is thin, that’s what she’s going to aspire to, just to get one up on other women.

Tapi sebagai seorang hypnotherapist, saya menemukan alasan yang jauh lebih mendasar lagi -dan ini terjadi di alam bawah sadar- yaitu wanita terus merakit penampilannya demi tetap merasa indah, berharga, dan cantik. Nah seringkali yang jadi masalah adalah siapa yang menjadi standar indah, berharga, dan cantik para wanita itu. Jawabannya: para model dan selebritis yang ada di majalah, iklan, dan televisi.

Semua gebetan dan kekasih kita terobsesi ingin jadi secantik para model kalengan jaman sekarang, atau jika mengutip istilah JK Rowling, “Empty-headed, self-obsessed, emaciated clones.” Padahal para model tersebut memiliki komposisi 23% lebih kurus daripada figur rata-rata wanita dunia saat ini, dan secara statistik figur para model majalah itu hanya dimiliki .03% dari wanita populasi dunia ini.. itupun masih harus ditambah editing photoshop lagi!

Angka-angka di atas berarti sulit sekali untuk menjadi indah, berharga, dan cantik jika harus mengikuti standar para model dan selebriti. Jadi sangat tidak heran jika kebanyakan wanita jarang sekali benar-benar merasa tenang dan puas dengan tubuhnya sendiri. Wanita terlalu sering bercermin di media massa, sehingga sedih dan tertekan ketika bercermin melihat refleksi dirinya di kaca.

Media di seluruh dunia berkolaborasi membombardir para wanita dengan berbagai foto model yang sedemikian kurus dan langsing, atau kurang lebih seperti wanita yang gambar paling kiri dari survei saya di paling atas. Bayangkan saja, seorang wanita kira-kira berhadapan dengan 400-600 iklan setiap harinya, jadi ketika dia berusia 17 tahun, dia sudah ‘dicuci otak’ oleh lebih dari 250,000 pesan komersil lewat berbagai media. Survei yang diadakan oleh agen periklanan internasional, Saatchi and Saatchi, mengungkapkan bahwa wanita jaman sekarang dibesarkan dengan satu rasa takut, yaitu takut jadi tua dan tidak cantik lagi.

Studi lain menemukan bahwa 77% dari iklan untuk anak perempuan berbicara tentang pergaulan dan kecantikan, sementara iklan untuk anak laki-laki lebih berbicara tentang hobi dan prestasi. Tayangan seperti inilah yang mengakibatkan anak-anak perempuan tumbuh jadi wanita dewasa yang jauh lebih self-conscious tentang tubuhnya dan terobsesi tentang penampilannya sebagai ukuran keberhargaan diri.

Salah satu studi menyatakan bahwa wanita akan lebih tertarik pada produk-produk yang dikenakan pada model bertubuh kurus. Paul Hamburg,  seorang profesor at Harvard Medical Schoolmenulis demikian, “The media markets desire. And by reproducing ideals that are absurdly out of line with what real bodies really do look like… the media perpetuates a market for frustration and disappointment. Its customers will never disappear.”

Mantan editor majalah Marie Claire, Liz Jones, menyatakan dengan tegas bahwa media merupakan industri yang mengerikan. “Designers want you to believe that you are not beautiful enough or young enough or thin enough, and they do that by draping cadaverous 16-year-olds across double-page spreads so you will feel so wretched that you will have to buy their products to make yourself feel better,” katanya. Dan jika media tidak mempromosikan wanita-wanita bertubuh kurus langsing di halaman majalahnya dan sorotan tayangannya, maka mereka akan kehilangan banyak koneksi dari para desainer, ditinggalkan para brand dan sponsor, serta tidak lagi mendapat undangan gratis untuk kursi terdepan di acara fashion show.

Sharon Lamb, seorang psikolog, menulis dalam bukunya yang berjudul Packaging Girlhood: Rescuing Our Daughters From Marketers’ Schemes, “Girls today, even very young ones, are being bombarded with the message that they need to be super-skinny to be sexy.” Bukan saja mereka dicuci otak ribuan kali oleh  pesan itu, namun berbagai brand pakaian memang mencetak outfit yang cantik seksi dalam ukuran ‘tubuh anak-anak’ alias mungil, kecil dan langsing.

Kondisi di atas adalah alasan yang paling sering saya dengar dari wanita yang bersikeras melangsingkan tubuh, “Karena baju-baju bagus biasanya ukuran kecil!” Lagi-lagi menguatkan dengan apa yang ditemukan oleh Saatchi and Saatchi, yakni bahwa wanita modern kini semakin dibesarkan dengan kekhawatiran menjadi dewasa (baca: tua dan gemuk) dan tidak bisa lagi menggunakan pakaian-pakaian sewaktu muda.

Berikut adalah kompilasi hasil penelitian tentang dampak media terhadap persepsi kurus-gemuk di pikiran wanita dunia:

  • 3 dari 4 wanita menyatakan bahwa dirinya kelebihan berat badan, padahal setelah dicek oleh tim medis terbukti hanya 1 dari 4 saja yang benar-benar demikian.
  • Wanita menaksir ukuran pinggulnya 16% lebih besar daripada ukuran sebenarnya dan pinggangnya 25% lebih besar daripada ukuran sebenarnya, padahal mereka bisa dengan akurat mengukur lebar sebuah kotak.
  • Wanita memiliki 13 pemikiran negatif tentang tubuhnya setiap hari, dan sekitar 97% dari mereka mengaku setidaknya berpikir, “Saya tidak suka tubuh saya,” sekali dalam satu hari.
  • Jika ukuran mannequin jaman modern ini ditiru persis oleh wanita, maka kemungkinan besar wanita itu memiliki gangguan menstruasi alias tubuhnya tidak sehat.
  • Wanita selalu berlomba-lomba mengikuti figur model, padahal realitanya hanya berkesempatan 7% untuk bisa selangsing para model catwalk dan 1% untuk bisa jadi ‘kurus seksi’ seperti  para supermodel kelas atas.
  • 68% wanita merasa penampilan dan dirinya tidak indah setelah membaca majalah wanita.
  • 75% wanita yang memiliki berat badan ideal merasa dirinya kegemukan dan 90% wanita merasa dirinya lebih besar daripada sebenarnya.

Kelam dan mengerikan yah..

APA YANG BISA KITA LAKUKAN?

Gentleman, ingatkan bahwa kekasih Anda tetap indah, berharga, dan cantik tanpa perlu jadi sekurus dan selangsing para model di majalah-majalah favoritnya. Ajak dia berdiskusi tentang isi trilogi tulisan saya tentang kecantikan: Apakah Cantik Otomatis BahagiaHarga Kecantikan, dan  Apakah Langsing = Cantik Seksi? yang sedang Anda baca ini. Lalu ingatkan dia bahwa para model dan selebritis itu dibayar untuk jadi ‘gantungan baju’ bagi para desainer dan toko baju. Para model itu bekerja keras menghilangkan lemak-lemak tubuhnya agar tetap bisa menarik perhatian orang yang ingin memperkerjakannya dan memberinya uang untuk kebutuhan hidupnya.. bukannya agar mereka bisa merasa indah-berharga-dan-cantik!

Ladies, ada baiknya Anda mendengar apa kata kekasih dan pasangan tentang kecantikan dan penampilan tubuh Anda. Jangan gunakan pemikiran Anda sendiri, apalagi membandingkan diri dengan apa yang Anda lihat di media. Berhentilah mengejar standar kecantikan di media yang jauh dari realistis. Lupakan juga nafsu kompetisi Anda dengan wanita-wanita lain.  Dan terakhir buang jauh-jauh ketakutan Anda bahwa kekasih akan tergoda dengan wanita yang lebih kurus dan langsing daripada Anda. Kalaupun ternyata kekasih Anda selingkuh dengan wanita demikian, lepaskanlah dan biarkanlah dia pergi dengan si ‘gantungan baju’.

Saya adalah pencinta wanita cabbi, karena di mata saya, cabbi itu seksi. Terserah bagaimana posisi Anda tentang isu ke-cabbi-an ini, tapi saya pikir kita perlu bersama-sama terus membisikkan kepada sebanyak mungkin wanita bahwa kelangsingan bukanlah standar keindahan. Sehat alamiah itulah yang indah.. dan sedikit lemak di sana sini, justru itu membangkitkan gairah.

Lalu bagaimana dengan para wanita yang memang bertubuh langsing ‘dari sononya’ dan tidak bisa gemuk-gemuk? Kalian juga indah, berharga, dan cantik kok. Dan selangsing-langsingnya Anda, pasti ada beberapa bagian yang empuk lembut kenyal-kenyal ‘kan..  nah selamatkan bagian-bagian itu. 😀

Save the chubby, save the world.. 😉

 

Salam revolusi,

Lex dePraxis
 Twitter  Facebook

 

ps. Ingin dunia jadi lebih hangat empuk? Sebarkan artikel ini via Twitter dan Facebook, lalu baca-baca KelasCinta.com.

 


76 Responses to Langsing Itu Cantik dan Seksi?

  1. curvy, chubby, skinny, atau apapun bentuk tubuhnya yang penting sehat dan bikin pemilik badan percaya diri. jangan lupa, lebih banyak bersyukur aja sama badan yang dikasih Tuhan. 🙂

  2. hmm, aku kurang suka sama artikel ini (walaupun dalam hati aku mengakui itu benar) tapiii.. Tubuhku otomatis kurus c, suka aja kalo liat cewek2 laen iri n lomba2 pengen kurus dann tanpa susah payah n tanpa ngerem makanan aku udah bisa mendapatkannya. Kalo semua pengen gemuk n chubby dan trend mode berubah. Well, kayaknya aku yg jadi perlu susah payah mendapatkan bentuk tubuh seperti itu :p

  3. Sebenernya tujuan artikel ini bagus sih buat bikin cewe2 lebih pede dengan bentuk badannya. Tapi rasanya kurang pas kalo dibilang semata2 chubby = berlemak. Artikelnya terlalu fokus bilang bahwa cowo suka cewe berlemak, tapi sangat kurang ditekankan bahwa distribusi lemaknya bukan “di mana2”. Semata2 berhenti berusaha untuk jadi kurus ga berarti cewe otomatis jadi curvy sexy.

    Coba liat gambar paling kanan. Biarpun badannya super montok, tapi wajah dan perut tetap kecil! Saya malah lebih jarang liat cewe yg badannya “secara alami” bisa kayak gitu daripada yg badannya bisa langsing alami ala model. Seringnya juga kalo badan dibiarkan berlemak sampai ke ukuran segitu tanpa dibarengi latihan fisik, yang ada perutnya berlipat2 dan bagian dagu bergelambir.

    Intinya sih, kalo emang gennya montok ga usah terlalu maksa buat jadi kurus, tapi yang penting pola hidup sehat dan tetap olahraga. Yang gennya kurus juga ga perlu terlalu maksa buat jadi montok. Buat apa maksain kurus kalo jadi kurang gizi dan buat apa maksain montok kalo cuma nambah2 kolesterol? :p Yang proporsional aja lah.

  4. Saya setuju dengan semua yang ada disini deh. Tapi tentang riset itu memang Duan sedikit ada benarnya. Sedikit saja. Riset yang kredibel seharusnya punya landasan teori keilmuan yang jelas, ada hipotesa yang mau dibuktikan dengan menggunakan teori tersebut, melalui metodologi yang bisa dipertanggung jawabkan (mis mengenai jumlah dan segmentasi responden, struktur pertanyaan dsb). Saya mendapat kesan bahwa ide dasar Lex adalah bahwa dia suka dg cewe chubby (ini *fakta* penting karena mempengaruhi subyektivitas ybs), dan dia liat *fakta* bhw banyak perempuan chubby berlomba2 menguruskan diri supaya disukai, jadi dia menuliskan disini *fakta-fakta* yang mendukung idenya tsb, dari hasil survey pribadi di FB dan mengutip artikel2 hasil penelitian orang lain. Tapi karena ybs mungkin gak punya latar belakang riset yang kuat jadinya ya … jangan dianggap terlalu serius lah. Mungkin ilmu saya belum setinggi Lex depraxis tapi koq saya liat karena ide awalnya memang sudah sangat terbatas, jadinya paparan tulisannya pun sangat terbatas meskipun dengan jumlah kata yang sangat *chubby*. Misalnya, pengertian *chubby* disini menjadi sangat sempit, yaitu “kelebihan berat badan” atau “kelebihan lemak”, padahal kalau memang Lex mau menunjukkan sisi keilmiahannya, dia bisa saja merujuk pada ukuran standard body mass index (http://en.wikipedia.org/wiki/Body_mass_index) untuk menentukan berat lemak (total fat) seseorang yang ideal melalui rasio tinggi dan berat badan, shg pesannya adl lemak tubuh is ok asal terukur. Kalau memang Lex mau menunjukkan adanya perbedaan persepsi ttg wanita gemuk dan kurus, dengan anggapan bhw wanita kurus/langsing lebih disukai pria (eh, ini juga harus melalui riset lho, bukan cuma kasih liat foto 3 perempuan dg ukuran tubuh berbeda-beda dan pilih yang disukai), maka dia bisa memakai pendekatan budaya, seperti kebiasaan makan dan gizi. Body image adalah masalah persepsi, dan persepsi itu dipengaruhi berbagai macam hal seperti ekonomi, sos-bud, tradisi dll, bukan cuma kompetisi antar sesama wanita (kebanyakkan nonton teen flicks atau Gossip Girls kali ya?). Sehingga pesan dari artikel elo menjadi lebih tajam dan kritis, gak cuma “stating the obvious”.

    Buat cowo cerdas macam Duan, anggap saja artikel ini adalah ajakan terselubung untuk berkompetisi sesama pria dlm memperebutkan perempuan ideal. Maksud saya, kalau Lex berhasil meyakinkan beberapa perempuan Indonesia untuk *menaikkan berat badan* atau *menambah jumlah lemak tubuh* alias *chubby* atau mungkin *fatty* oh *obese kali* #eh maka pilihan dia jadi semakin banyak, sementara pilihan dirimu yang mungkin lebih suka yang non-chubby dan non-fat jadi semakin terbatas. Seperti itulah seharusnya kamu memahami artikel ini, dari sudut pandang pria yang menganggap diri sbg *ultra* alpha male 😉

  5. Sebenernya yang paling utama adalah “Love thyself”

    Buat yang lahir langsing.. bersyukurlah lahir langsing, cari baju mudah, cari pacar apalagi..

    Buat yang lahir chubby, bersyukurlah lahir chubby, asal sehat.. cari baju yang flatter our figure dan cari pacar yang menghargai gak cuman penampilan, tapi juga beauty inside..

    Gue percaya… segala type cewe punya market sendiri-sendiri…

    Kebetulan di dunia sekarang ini, chubby gak terwakilkan, malahan dari jaman SMP/SMA sering dibully cowo2 (it happens to me even di reuni terakhir dan I’m married with 3 kids, for Christ-sake, I don’t need to impress my high-school friends anymore).. so chubby ladies whereever you are, stand tall, stand proud… show your curve and have a good time…

    I did exercise regularly and I tone my muscle, but I can’t never be the women in the fashion magazine, and it’s okay 🙂

  6. Menanggapi komentar Duan yang cukup cerdas :p saya ingin juga menyampaikan opini saya.

    Pertama, dalam artikel ini tidak ada kalimat yang mengatakan bahwa Wanita ideal itu yang chubby seperti yang anda paparkan.So, anda sudah salah persepsi terhadap makna atau esensi dari artikel ini sendiri.

    Kedua adalah pengertian chubby disini bukanlah yang terlalu gemuk atau sampai ke obesitas. Seperti yang tertera pada artikel itu adalah yang sedikit berisi atau istilah lainnya “montok”. Setau saya sih memang sedikit cowok yang tidak tergoda dengan cewek montok. Contoh lain juga kalau kita melihat baby, pasti prefer ke yang montok sehat kan daripada yang kekurusan 🙂

    Kalau anda katakan bahwa manusia tidak pernah puas, justru artikel ini ada untuk memberi pencerahan bahwa manusia, secara spesifik dalam hal ini adalah cewek-cewek yang terobsesi menjadi sangat kurus walaupun sebenarnya sudah cukup ideal untuk berhenti menyakiti diri mereka dengan berbagai cara supaya terlihat kurus seperti para model atau selebriti. Karena para wanita yang tidak selangsing model-model itu dan yang punya pikiran sempit akan menganggap diri mereka bernilai dan disukai pria dengan menjadi selangsing model.

    Langsing itu bagus dan indah tidak ada yg bilang jelek atau tidak seksi, tapi yang jadi salah adalah ketika para cewek-cewek sangat terobsesi kurus dengan cara yang salah dan nyakitin diri karena ingin bersaing dengan para model walaupun sebenarnya body mereka sudah cukup langsing dan bagus. Padahal faktanya, menurut artikel diatas yg sudah melakukan survey, kebanyakan pria atau bahkan wanita yang berpikir majupun lebih suka wanita yang berisi dan sehat.

    Ketiga, kalau anda ingin memberikan sanggahan, andapun harus bisa melakukan survey seperti penulis dan harus didukung dengan sumber-sumber dari peneliti sebelumnya seperti yang penulis lakukan baru bisa membuat opini anda seimbang. Semua orang bisa dengan mudah berkata “Faktanya” hanya untuk memberi kesan kepada pembaca yang tidak kritis berpikir apa yang dikatakan benar. Jangan hanya berkata “faktanya bla bla bla” tanpa statistik dan sumber informasi yang kuat karena itu akan terlihat absurd atau istilah kerennya konyol :p

    Sorry juga kepanjangan karena saya juga tidak rela bila kaum wanita hanya berpikir cantik dan bernilai karena ukuran bodynya, yang lebih penting adalah sehat raga dan jiwa supaya bisa menghasilkan generasi yang cerdas dan tidak melulu terobsesi makeup dan body super model.

  7. Nice post, Lex! Mematahkan stereotype ‘cantik langsing’ is indeed a good effort

    Tapi.. kalau disebarin terus, hasil survey itu bisa mis-leading dan menciptakan ‘stereotype’ lainnya, yaitu ‘cantik cabbi’ :))

    Menurut gw.. stereotype cantik itu lebih kepada tren, evolving dari waktu ke waktu, dan tergantung pada konteks budaya. Jaman Cleopatra dulu (konon) cewek yang dianggap cantik sexy itu yang curvy, pinggul dan dadanya besar. Tahun 60-an, tren nya berubah jadi kurus ceking yang dipelopori sama si model Twiggy.

    Kalau jaman sekarang cewek2 pada menempuh jalan2 nggak sehat untuk jadi kurus, jaman dulu (mungkin sekarang masih) ada wilayah tertentu yang cewek2 nya pada menempuh jalan2 nggak sehat untuk jadi curvy dan berisi karena itu yang dianggap cantik! Nah lho!

    Jadi intinya sih.. menurut gw mau cabbi atau ceking yang penting jangan nyakitin fisik dan mental sendiri demi mencapai bentuk tubuh tertentu.

    Gw suka badan gw yang menurut foto di atas ukuran 8. Gw masih rajin nge gym dan muscle toning soalnya gw enjoy ngelakuin itu, dan bikin gw sehat 🙂

    Terakhir.. gw setuju sama Duan, gw gak rela jadi cabbi hanya karena sekian persen dari laki-laki responden survey (termasuk Lex) doyan yg cabbi :p

  8. Sori kritik. Walau gw akui udah dapat banyak ilmu dari HS dan terbukti bermanfaat, namun untuk artikel ini ga setuju, karena:

    1. Kalau emang wanita ideal itu yang cabbi, kenapa justru para model dan selebritis itu dibuat kurus? Kalau gw seorang promotor selebritis dan mengetahui bahwa masyarakat lebih suka ce cabbi daripada yang kurus, maka gw akan cari model yang cabbi, karena akan lebih disukai penonton.. janan lupa,penonton bukan cuma ce aja, malah penggemar seleb ce kan adalah para co, jadi logikanya, kalau artikel ini bener, seharusnya justru seleb ce kurus pada kurang laku dan seleb ce cabbi yang jadi pada laku.. faktanya ga gitu kan?

    2. Kenapa gw bisa bilang kemungkinan artikel ini salah? mungkin metode penelitiannya kurang tepat. contoh, gw penggemar ce kurus, tapi dikasih 3 gambar diatas, gw akan pilih ce yang ditengah. kenapa? simpely karena lebih cakep. jadi klo mau survei, variabel sekunder harus dibuang dulu.. ce2 itu posenya harus sama, mukanya sama, make up sama, cuma bentuk tubuhnya aja yang beda.. itu baru lebih valid hasil surveinya..

    3. Fakta di sekeliling gw, banyak co yang suka ce kurus. dan lebih parah lagi, banyak ce kurus yang pengen gemuk!! kenapa? karena semua temennya (baik ce maupun co) pada bilang dia terlalu kurus dan harus gemukin badan.. Intinya, kalau buat gw: manusia tidak pernah puas pada apa yang dia punya. contoh lagi, mana yang lebih bagus, kulih putih atau kulit kuning langsat? iklan di TV indonesia, banyak banget yang iklannya biar kulit bisa jadi putih.. ternyata, ce2 berkulit putih di amrik dan eropa malah berjemur biar bisa agak iteman dikit.. So, intinya adalah manusia tidak pernah puas.. satu lagi, udah coba tanya para selebrity itu belom? apakah mereka puas dengan badannya? jangan2 para model dan selebrity yang jadi tolok ukur itu juga sama aja belom merasa tubuhnya ideal..

    Sori kepanjangan.. karena gw ga rela klo ce2 jadi pada cabbi.. :p

  9. Ahhh koko lex ini cerdas sekali..klo buat artikel selalu menggunakan fakta-fakta 🙂 saya sendiri sebagai cewe yg dibilang susah gemuk. Tp agak sedikit terganggu dengan lemak diperut yg bikin buncit. Klo diet sih gak. Cm pengennya lemaknya nybar biar g numpuk disatu tempat :p mungkin dibarengin sama olah raga kali ya. G penting seberapa ukurannya kan yg penting sehat 🙂 koko lex bener deh co lbh suka cewek chubbi soalnya cowok aku jg lbh suka aku menggemukan badan 😀 so gak perlu diet n bisa menikmati makanan yg enak-enak deh 🙂

  10. ahahhahaa…sersan (serius tapi santai) setuja banget saya… bukan hanya saya tergolong orng yg cubby, tpi juga krn saya sangat prihatin pemikiran sempit cantik = langsing dan putih. yup, kl anda mengatakan model kurus itu gantungan baju, orng jawa bilng kurus itu tak ubahnya spti “pohon pisang” dingin tak berasa. dan ktka ada yg ngejek gemuknya saya “cuby” nya saya ^,^ saya bilng kemereka “kenapa ada gemuk dan ada kurus, ya..begitulah cara Tuhan memberi tahu kita kalo daging itu empuk dan tulang itu keras. so, mau pilih dingin spti pohon pisang, atau yg hangat dri yg agak tebal. pilih yg sekeras tulang atau yg seempuk daging. hahhahahah……….. hidup cubby :p
    nb: atur makan untk kesehatan, bkn untuk pelangsingan.

  11. Halo..Cowok seantero dunia.. Lex dePraxis berjasa membuka mata hati dan pikiran saya sebagai kaum Hawa, hehehe aku jd tahu rahasia kamu semua klo ternyata lebih menyukai lemak wanita dari pada tulang nya..well.. okey dech, sekarang aku ingin lebih mencintai tubuhku.. karena sejatinya aku nggak gemuk2 amat kok.. okey Lex many thanks.. good luck forever..

  12. Postingan yang menarik. Image bahwa langsing lebih cantik memang berbahaya sekali. Tapi saya pikir ketidaknyamanan perempuan terhadap ukuran tubuhnya bukan hanya timbul dari diri sendiri lho, kadang tekanan yang mendekati abusing dari sekeliling membuat perempuan tidak percaya diri. Lebih dari 50% komentar kalau bertemu dengan “teman perempuan” yang sudah lama tidak bertemu adalah “Kok, gemukan?” Atau “Tambah gemuk ya?”. Padahal timbangan di kamar mandi tidak berubah. Selain menyarankan laki-laki untuk memuji pasangannya, kaum perempuan juga mesti mulai kontrol diri dalam memberikan komentar yang berkaitan dengan berat badan ;-).

  13. Baru kemarin sedih gara2 berat badan naik 3 kilo..padahal ga gemuk2 amat, tp ngeluh terus pengen langsing :P. Baca ini bikin saya bersyukur ,lebih PD. “chubby is sexy” 😀

  14. Jujur, I’m one of those kind of girl. Always obssesed myself to be thinner, cuz i myself a very curvy lady and i find myself so disgusting everytime i watch myself in a mirror. 🙁 i just hope your article really represent most of the guys thought. Cuz i still think guys love slimmer lady than the curvier one. *crossfinger

  15. Pingback: Cara cepat turunkan berat badan, cara langsing cepat | Romantic Renaissance

  16. wah, saya termasuk wanita yg gak terlalu mikir untuk diet apalagi minum obat diet.. *bayangin aja udah aw aw sendiri, haha*. Pas baca artikel ini saya semakin bersyukur dengan tubuh yg sekarang.. dan, kebetulan pacar saya juga bukan tipe pesuruh harus diet apalagi penyuka “gantungan baju”. Terima kasih atas artikel yg hebat ini ^^d. salam chubby 😀

  17. Bener Lex…gw pribadi sbnrnya ga terlalu suka yg kurus2x ky model gt…terbukti 2 org d masa lalu yg sblm jadian kurus saya naikin beratnya, malah ada yg smp 5 kilo…haha ;D

  18. Saya suka dengan artikel ini lex!Saya juga prihatin dengan banyak cewek yang menurut saya sudah sangat langsing tapi masih suka complain blg bodynya gemuklah, gak okelah duhh.. sy ajah yg jadi cwek pusing apalagi yg jadi cowoknya. Memang benar media jaman sekarang banyak meracuni pikiran wanita untuk jadi selangsing mungkin (read: kurus kering)although it’s not healthy at all. Thanks for sharing!

  19. Hail Chubbies!(°¬°)
    Kalo menurutku sih langsing tu oke-oke aja. Yang ga baik itu KURUS. 😐
    Jujur, aku kasian liat cewe yang bela-belain makan sehari cuman sekali atau nyoba minum obat diet. Udah usaha keras, eh ujung-ujungnya GAGAL. LOL
    Mereka stress berat.

Leave a Reply