JKT48, Wota, dan Cinta

JKT48, Wota, dan Cinta

You know, Lex,” ucap teman saya beberapa tahun yang lalu saat di puncak salah satu gedung Bali dengan ketinggian 45 meter, “There are stupid things you should do at least once in a lifetime,” lanjutnya sambil tersenyum, lalu melompat berteriak bahagia sambil meluncur merenggangkan tali bungee jumping-nya. Tadi malam saya mengikuti sarannya itu: menonton konser JKT48 di fX Senayan.

Persis subtitle blog ini, Days of Our Lives, saya menulis hal-hal lepas di luar profesi saya sebagai love coach ataupun tentang ilmu cinta, walau akan selalu ada banyak referensi ke arah sana. Ini adalah kisah studi pengamatan saya yang bertahan melalui konser JKT48 dan berhasil kembali untuk menceritakannya untuk Anda. This is going to be a very long, heavy, and eye-opening post. Definitely not suitable for people with mediocre minds, so enter at your own risk!

INTRODUCING JKT48!

JKT48 adalah kelompok idola pop yang dibentuk tahun 2011 sebagai franchise saudara lokal dari AKB48 yang berawal di Jepang. Istilah ‘pop idol group‘ lebih tepat karena istilah ‘girlband‘ justru rancu berhubung anggota JKT48 tidak main alat musik apa pun dalam pertunjukannya. Serupa dengan Cherrybelle, JKT48 adalah salah satu tren gelombang kelompok musik berisi gerombolan (anak) perempuan yang menghibur dengan nyanyian dan tarian berkoreografi.

Para penggemar fanatik JKT48 (dan pop idol group lainnya) seringkali disebut (atau tepatnya diledek) dengan istilah Jepang wota, atau kependekan dari otaku, yang berarti orang dengan minat sangat serius atau obsesif pada bidang tertentu, seperti dunia anime dan manga. Dalam bahasa Inggris, istilah itu mungkin bisa dipadankan dengan geek dan nerd. Salah satu keunikan para penggemar berat adalah atraksi wotagei: tarian dan seruan berkoreografi dengan glowing lightstick yang dilakukan sebagai bentuk dukungan jiwa raga mereka terhadap para idol.

Contoh tampilan penggemar dan ekspresi mereka.

Contoh tampilan penggemar dan ekspresi mereka.

Menjelang akhir tahun 2012, saya untuk pertama kalinya melihat pertunjukan wotagei pada acara komunitas yang berlokasi di luar gedung Tennis Indoor Senayan. Cuaca malam sedang sangat cerah tapi udara cukup kering dan minim angin, bahkan saya yang jalan santai menggunakan T-shirt saja agak merasa pengap. Jadi saya sangat terkejut ketika melihat sekitar sepuluh anak laki-laki berdiri berbaris meliuk-liukkan badan sekuat tenaga, memutar glowing lightstick dengan kecepatan tinggi sambil sesekali berseru bunyi-bunyian yang saya tidak mengerti.

“TARIAN PEMANGGIL ANGIN PUYUH!!!” pikir saya pada saat itu. Tapi ternyata insting studi saya lebih kuat daripada insting menyelamatkan diri, jadi kaki saya malah berjalan menyimak tarian itu lebih dekat. Para penari angin puyuh bergerak liar namun terkoordinasi dengan mata yang menatap nanar kosong dan tubuh penuh berkeringat. Sesekali mereka berhenti, membungkukkan badannya dengan kepala tertunduk dan bernafas tersengah-sengal, lalu melanjutkan kembali serentak seperti ada yang memerintahkan dari dalam diri.  Bayangkan saja adegan kerasukan di film horror, tapi orangnya banyak, bergerak kompak, dan melambaikan stik warna-warni.


Contoh wotagei, tapi ini cukup tapih bersih.. yang saya lihat tempo hari sangat bocah, dekil, dan lusuh.
Sekitar 5 meter dari mereka, kaki saya berhenti otomatis karena tercium bau keringat yang tidak menyenangkan. Selain kebauan, saya juga kebingungan karena tidak mendengar suara musik apapun di sana yang mengiringi tarian itu. Bagaimana bocah-bocah itu bisa sinkron kalau tidak ada panduan musiknya? Pasti pengaruh demonik. Saya berputar-putar berusaha mencari jimat yang memicu kerasukan itu, sampai akhirnya saya menemukan banner bergambar gadis-gadis muda dan tulisan JKT48 Fans Club. “Ternyata orang Maya benar,” saya bisa dengar hati saya bersuara lirih, “Ini adalah akhir jaman.”

Subkultur wota dan wotagei itulah yang kemudian mengusik rasa penasaran saya selama berbulan-bulan. Kemarin akhirnya saya memutuskan untuk benar-benar mengamati dan mengalami sendiri sensasi JKT48 ini. Konser dijadwalkan pukul 20.00 WIB, tapi teman-teman di Twitter memberitahu jika tidak memesan tiket lewat situs JKT48 maka saya harus sudah hadir di loket dari siang harinya untuk mengambil nomor waiting list. Saya beruntung sekali karena kemarin dibantu seorang teman lama yang memang sudah fans berat JKT48; dia rela mengambilkan nomor jadi saya bisa datang agak sore menjelang malam.

“Gue udah dapet WL nomor 14 & 15, jadi 99% kemungkinan bisa dapet tiket. Ini hari spesial elo Lex, bersiaplah menerima oshi!” demikian bunyi SMS-nya sekitar pukul 2 siang. Saya sama sekali tidak mengerti apa yang dia maksud, bahkan jadi sedikit bergidik ngeri dan terpikir membatalkan. Tapi persis seperti Kintaro di Golden Boy yang selalu haus belajar, saya menetapkan hati untuk terus maju dan melanjutkan studi. Saya tiba di fX pukul 5 sore, berdiskusi dengan wota sambil makan malam, dan menonton pertunjukan JKT48 sampai sekitar pukul 10 malam. Terlepas dari apakah interpretasi saya tepat atau tidak, berikut adalah beberapa poin menarik yang saya dapatkan dalam riset ini.

 

FINDING NEMO OSHI!

Ini dia kata yang di-SMS oleh teman saya tadi. Oshi adalah kependekan dari oshimen yang artinya mendukung salah satu anggota JKT48. Tapi pada realitanya, oshi itu bukan dukungan dalam arti yang biasa karena ada tekanan sosial jika seorang fans memiliki banyak oshi ataupun berganti oshi. Setiap orang layaknya punya satu oshi saja yang dia serahkan jiwa raga untuknya. Kalau soal oshi, kata ‘dedikasi’ jauh lebih tepat daripada ‘dukungan’. Contoh dedikasi: rajin menyerukan nama sang oshi saat pertunjukan, membuat poster dan banner, memberikan surat dan hadiah kepada sang oshi, melakukan banyak pengorbanan besar dan rela sakit demi datang konser oshi-nya, sampai membeli berbagai macam merchandise oshi-nya.

Satu sikap fans yang paling umum dilakukan adalah menyapa dan mengobrol dengan sang oshi lewat social media, khususnya Twitter. Anggota JKT48 sepertinya dilarang untuk membalas mention penggemar karena itu memicu kecemburuan dari ribuan penggemar lain yang tidak dibalas. Kecemburuan ini bisa berpengaruh negatif, misal penggemar ‘menyerang’ penggemar yang mendapat reply ataupun bisa timbul kekecewaan karena tidak dibalas sehingga berpindah oshi. Anggota JKT48 harus menjawab dan mengirim pesan inspirasi secara umum, tapi setiap penggemar bisa merasa itu adalah jawaban langsung dan spesifik untuk dirinya.

Jadi walau JKT48 merupakan kelompok musik populer seperti banyak lainnya, tapi kultur wotaoshi adalah keunikan delusi dan adorasi (pemujaan) yang sedikit di luar batas kewajaran. Para penggemar yang saya ajak ngobrol punya banyak cerita bagaimana mereka merasa oshi-nya mengakui mereka lewat lirikan mata dan tunjukan jari dari atas panggung. Banyak juga kisah penggemar yang bangun pagi dengan perasaan gamang, lalu tersenyum penuh arti ketika beberapa jam kemudian melihat oshi-nya twit, “Kurang enak badan nih, tapi tetap semangat karena banyak dukungan!” Para penggemar merasa tervalidasi dan terhubung secara psikis dengan oshi-nya, bahkan sampai mempengaruhi studi dan pekerjaan sehari-hari. Beberapa mengaku tahu itu cuma perasaan dan harapan saja, tapi banyak juga yang menganggapnya fakta yang sungguh serius.

Jadi bagi penggemar yang sangat serius, JKT48 bukan kelompok musik dan oshi bukan manusia biasa. “Oshi gue selalu nemenin gue, ngasih inspirasi, nambahin energi yang gue butuhin. Gue selalu jadi orang yang lebih baik karena kekuatan dari dia!” ucap salah seorang penggemar. Atas nama pengabdian cinta, mereka bersedia berperang frontal dengan liar, gelap mata, dan kehilangan akal sehat. Mereka membela ketika oshi-nya dikritik, menghujat orang-orang yang meledek JKT48, mengucapkan hal-hal yang persis berkebalikan dengan definisi ‘jadi orang yang lebih baik’, bahkan oshi-nya bisa malu setengah mati jika tahu kelakuan pendukungnya itu. Semangat ke-wota-an sama persis semangat keagamaan: JKT48 adalah religinya, oshi adalah tuhan/dewi-nya, dan Theater JKT48 fX Senayan adalah kuil sucinya. Dan persis seperti agama, fanatisme dan agresi buta juga terjadi dalam subkultur wota.

Lalu apakah saya menemukan oshi saya tadi malam? Apakah ada seorang idol yang khusus berbicara pada saya tadi malam? Entahlah, mungkin saja. Dari 16 anggota JKT48 tim K, saya merasa tertarik dengan empat orang tapi itu pun saya tidak tahu nama-namanya lagi. Tapi ada satu dari lima anggota favorit itu yang dua kali bernyanyi dengan menatap tajam tepat pada saya, masing-masing dengan durasi yang keterlaluan panjangnya. Saya yang baru pertama kali nonton dan sangat skeptik saja bisa mencicipi a small spark of delusion seperti itu, jadi saya kira-kira bisa membayangkan apa yang dirasakan para wota yang rajin datang konser dan rutin ‘berdialog’ dengan oshi-nya.

Berkat bantuan teman-teman di Twitter, saya berhasil mengidentifikasi kelimat member favorit..

Berkat bantuan teman-teman di Twitter, saya berhasil mengidentifikasi kelima member favorit! Coba tebak siapa di antara mereka yang bernyanyi dan memandang saya dengan ekstra lama.. 😉

 

COMPLETE THEATRICAL EXPERIENCE!

Sepanjang konser tadi malam, saya benar-benar menikmati interaksi yang ada. Konser JKT48 tidak seperti konser pada umumnya, malah menurut saya JKT48 bukan kelompok musik ataupun konser musik. Supaya jelas, saya beri dulu pengertian keduanya. Kelompok musik, biasa disebut band, adalah kumpulan orang yang memainkan instrumen dan/atau menyanyi. Konser musik adalah pertunjukan kelompok musik untuk menghibur para penggemar dan penontonnya. Nah sesuai apa yang saya alami tadi malam, menyanyi hanyalah secuil dari apa yang JKT48 lakukan dan mereka tidak berusaha menghibur, tapi berinteraksi dengan setiap penggemarnya.

JKT48 mungkin menyajikan 16 lagu (kalau tidak salah), tapi sebenarnya yang mereka sajikan adalah complete theatrical experience, yaitu berakting drama dengan unsur lagu, gerak tari, dan desain visual lainnya. Dalam konser yang saya ikuti tadi malam, elemen terpenting dari kelompok musik malah tidak dilakukan sama sekali: mereka tidak bermain musik dan mereka tidak benar-benar bernyanyi alias lipsync. Musikalitas hanyalah medium alias pengantar, karena ada beberapa lapisan bawang lainnya yang lebih membuat penggemar terhipnotis pada pesona JKT48.

Lapisan pertama ada pada segmen interlude (mereka sebut MC, entah apa itu) antar beberapa lagu, berisi dialog yang harus dimainkan setiap anggota JKT48. Misalnya tadi malam mereka masing-masing bergantian menjawab, “Kalau main film, mau jadi aktor yang bagaimana?” sambil sedikit memerankan akting tersebut. Pada MC berikutnya, mereka berakting jadi peserta kompetisi Miss Universe dan meminta para penggemar memberi komentar dan dukungan. Dalam acara musik umumnya bagian lucu-lucuan ini dilakukan oleh host acara, bukannya oleh sang bintang tamu sendiri. Tapi dalam JKT48, para dewi khayangan yang tidak bisa disentuh (literally!) untuk beberapa menit keluar dari mode gerak-dan-lagu surgawinya, melangkah turun jadi manusia biasa yang bisa terlihat aneh, grogi, lugu, salah bicara, bahkan bercanda dengan manusia-manusia penyembahnya.

Masih terkait dengan konsep ‘dewi khayangan yang akrab dengan manusia’ itu adalah sesi handshake saat keluar dari teater di akhir pertunjukan JKT48. Penggemar diberi kesempatan mengucapkan satu kalimat saja selagi berjabat tangan, dan waktu 1-2 detik itu adalah sentuhan spesial (again literally!) yang membuat JKT48 terasa begitu dekat dan nyata. Kalaupun waktu itu dirasa kurang, penggemar bisa membeli album JKT48 untuk bonus kembali berjabat tangan dan mengobrol beberapa detik sedikit lebih lama. Prinsip Law of Scarcity yang dijabarkan dalam buku favorit saya, Psychology of Persuasion, bisa menjelaskan mengapa segmen MC dan handshake ini sangat efektif membuat para wota kecanduan: “Things are more attractive when their availability is limited. People become more passionate and devoted to pursue them.

Lapisan kedua ada pada sistem interaksi member JKT48 dan penggemarnya yang sangat unik. Dalam acara musik, pada penggemar umumnya menikmati sambil ikut bernyanyi bersama artis pujaan mereka. Tapi dalam konser tadi malam, saya cukup terkejut melihat tidak adanya kebiasaan sing along. Penggemar JKT48 tidak bernyanyi lagu, tapi ‘bernyanyi’ (istilahnya chanting) berbalasan melengkapi pertunjukan oshi mereka. Misalnya pada lagu Heavy Rotation, ada bagian penggemar meneriakkan nama-nama member JKT48 yang sedang bernyanyi, ada bagian berseru “Oi oi oi oi oi!”, dan berbagai lainnya. Selain chanting bersuara, para penggemar juga biasanya menggerak-gerakkan lightstick berwarna mereka dengan gerakan tertentu. Sensasi JKT48 tidak sama seperti sensasi konser lain, karena para artis dan penggemarnya yang aktif bermusik dan berdansa, menyatu dan melengkapi.

For me just singing along in a concert with my favorite artist is already an amazing and a spiritual experience, tapi keikutsertaan saya tidak begitu menambah nilai dari pertunjukan itu sendiri. Sementara dalam konser JKT48, sepertinya ada sesuatu yang kurang, atau bahkan hilang, jika para penggemar tidak ikut chanting bersama para oshi. Sulit dibayangkan betapa indahnya perasaan para wota saat chanting menyatu dengan oshi-nya dalam konser JKT48. Dari segi tehnik vokal, anggota JKT48 cuma bernyanyi beramai-ramai, bukannya bernyanyi harmoni, tapi justru para penggemarnya yang memberikan efek harmonisasi. Selama dua jam, tidak ada lagi ‘aku’ dan ‘kamu’ antara oshi dan wota.. yang ada hanyalah ‘kita’. Rasa keterlibatan inilah yang mungkin membuat JKT48 terasa begitu intim dan mengena bagi para wota ataupun saya yang baru sekali menikmatinya.

Lapisan ketiga dari kekuatan teatrikal JKT48 adalah seksploitasi visual lewat pesona gerak dan tubuh wanita. Walaupun semua penggemar berat mengaku memandang oshi-nya dengan kagum dan hormat, tapi saya yakin hampir semuanya memiliki muatan hasrat romantika dan sensualitas tertentu. Maksud saya, kita pasti tidak akan melihat sensasi ke-wota-an yang sama jika JKT48/AKB48 beranggotakan remaja laki-laki usia 13 sampai awal 20-an. Penggemar JKT48 didominasi kaum pria karena kelompok pop idol itu memanfaatkan pesona sensualitas wanita yang menarik pria berbagai kalangan usia, khususnya anak-anak muda yang terjebak frustasi romantik/seksual antara kemudahan akses media dan tuntutan moral tradisional. Itu semua jelas sekali jika Anda melihat video klip lagu andalan AKB48 Heavy Rotation dan menyimak berbagai sexual innuendo pada liriknya. Kostum, gerak, dan lirik mereka adalah ramuan teatrikal yang sensual.

Di Indonesia yang begitu relijius ini, jelas JKT48 harus mengalami banyak penghalusan. Setiap melihat JKT48 lewat TV dan internet, tidak ada kesan sensual sama sekali dan bahkan saya berkali-kali berseru, “Anak kecil ah, males!” Tapi ketika hadir dalam konsernya langsung, saya bisa merasakan bagaimana kostum serta gerak tarinya diatur dalam kombinasi yang halus dan frontal sedemikian rupa agar memicu gairah pada sistem otak limbik manusia normal. “Bening, cabbi, nackal!” teriak batin saya. Sistem teatrikal panggung, tata suara, dan kilat lampu juga berperan membuat para peserta terlihat jauh lebih menawan daripada aslinya. Setelah show selesai dan semua penggemar bersalaman dengan anggota JKT48 dalam posisi sejajar (tidak lebih tinggi di atas panggung) tanpa dentum suara lagu ataupun sorotan lampu meriah, barulah saya kembali bisa melihat bahwa sosok JKT48 sebagai anak-anak kecil sehingga merasa aneh canggung karena tadi sempat menikmati keindahan mereka.

That’s the thing about girls. Every time they do something pretty, or even if they do stupid things, you fall in love with them and you never know where the hell you are. Girls. They can drive you crazy. They really can,” demikian tulis JD Salinger dalam novelnya, The Catcher in the Rye, yang mengupas isu tentang kehausan manusia akan harapan, identitas dan hubungan. Ketiga kombinasi itu juga menjadi benang merah yang ada dalam setiap pertunjukan JKT48. Ketika melangkah keluar dari teater tadi malam, saya bisa melihat wajah para penggemar yang tersenyum ringan lepas terpuaskan dahaganya, seperti baru saja selesai orgasme mental.

Selama dua jam, wota bukanlah orang aneh, nerdgeek, ataupun penggemar dan penonton di sebuah acara musik. Mereka bertemu tuhan dan bercumbu dengannya. JKT48 bukan pertunjukan duniawi, JKT48 adalah persetubuhan ilahi.

 

THE SCIENCE OF JKT48!

“Ya gue ga nyangkalin ada banyak banget wota yang sebenarnya cuma mupeng aja sama oshi-nya, tapi gue pribadi ga gitu. Gue jadi penggemar karena merasa terpanggil, beneran peduli sama oshi gue. Dia masih 15 tahun jadi gue ga mungkin punya minat romantika apapun sama dia. Tapi aneh juga sih, dia satu-satunya member yang paling sering ngomong mau merit. Terserah deh, hahaha! Pokoknya gue peduli sama sekolahnya, kehidupannya, kesehatannya, masa depannya, macem-macem deh. Gue selalu kasih komentar abis setiap pertunjukannya. Gue ngingetin dia untuk makan dan istirahat. Gue berkali-kali twit bilangin supaya dia panjangin roknya jangan sependek itu atau naikin shirt-nya jangan serendah itu, dan dia ngedengerin yang gue bilang karena besok-besoknya ada perubahan. Gue bisa lihat dia banyak banget perubahan semenjak gue aktif dukung dia. Gue seneng ngebantu orang jadi sukses dan spesial. Itu bikin gue merasa sukses dan spesial.”

Itu adalah ucapan dari salah satu wota yang saya wawancarai. Ketika saya tanya berapa banyak penggemar yang memiliki visi serupa, dia bilang cukup banyak di kalangan teman-temannya. Ketika saya tanya kira-kira perbandingan jumlah penggemar yang sepertinya dibanding penggemar yang mupeng/horny, dia diam saja tidak mau menjawab. Keengganannya memberi penilaian mungkin bersumber dari kebersihan hatinya yang menolak memandang JKT48 sebagai obyek seksual walaupun sekedar untuk perbandingan sejenak. Atau mungkin juga dia enggan menjawab karena sadar jumlah penggemar bersih-hati sepertinya masih justru cuma sedikit, sehingga bisa-bisa berakibatnya miringnya persepsi saya tentang JKT48.

Saya pribadi tidak menilai pop idol group JKT48 dan subkultur wota sebagai sesuatu yang baik ataupun buruk. Seperti bisa Anda baca dari awal tulisan ini, saya lebih fokus pada studi pengamatan daripada vonis penilaian. JKT48 dan tetek bengek di sekitarnya adalah fenomena budaya yang sangat menarik karena berkaitan dengan area hubungan cinta yang menjadi profesi saya sehari-hari. Misalnya kesuksesan JKT48 (dan pop idol group lainnya) dalam menggoda pasar pria dapat ditelaah menurut prinsip-prinsip dalam kajian psikologi evolusi.

Dua orang psikolog, Russel Clark dan Elaine Hatfield, mengadakan eksperimen sosial ini: seorang wanita muda diminta untuk mendekati dan menggoda banyak pria asing yang lewat di jalan. Wanita itu rupanya tidak cantik tapi juga tidak jelek, serta memakai pakaian yang biasa saja tanpa memancarkan keseksian. Sebagian pria diajak untuk datang ke apartemen malam harinya dan sebagian pria lain diajak untuk kencan di akhir pekan. Hasilnya: pria yang diajak ke apartemen 75% menyatakan ya, dan pria yang diajak kencan 50% mengatakan ya. Cukup muda saja membuat wanita sangat diinginkan, apalagi jika ditambah dengan fitur-fitur keindahan lainnya.

Menurut kajian keilmuan, sistem biologi pria memang diciptakan otomatis tertarik pada wanita yang terlihat segar, subur, dan sehat atas dasar keperluan reproduksi. Sebagai perbandingan, pria produksi rata-rata 1,500 sperma/detik sepanjang bulan, sementara wanita hanya produksi satu telur dalam satu bulan. Kelangkaan itu (ingat Law of Scarcity yang sudah saya sebut di atas?) wajar membuat wanita berusia muda punya pesona tersendiri di mata pria karena biasanya belum terjangkit varian penyakit dan memiliki sisa masa reproduksi yang lebih panjang. David Buss, profesor di University of Texas dan salah satu peneliti utama evolutionary psychology, menulis bahwa meminta seorang pria untuk tidak menginginkan wanita yang muda cantik sama seperti meminta makhluk karnivora untuk tidak memakan daging.

Sama seperti lapar-mata tidak selalu berarti ingin makan, demikian juga tergoda-mata tidak selalu berarti ingin melakukan hubungan seksual. Ketertarikan pria pada sosok muda tidak selalu membuatnya bergairah secara seksual, karena kadang juga membuatnya bergairah mengasuh dan memelihara. Insting ini yang membuat kita bersuara ‘tidak-jantan’ ketika melihat video anak kucing, anak anjing, atau anak bertingkah lucu di Youtube. Insting ini tercetak dalam diri genetik pria dan wanita agar memampukan mereka bekerjasama mengasuh anak hingga usia dewasa. Jadi kalaupun Anda tidak ingin memilikinya, minimal Anda ingin bermain, membantu, dan memeliharanya.

Sekarang Anda mulai melihat bagaimana semua ini terpenuhi dalam AKB48/JKT48?

AKB48 yang sederhana, terbuka, apa adanya. :D

AKB48 yang sederhana, terbuka, apa adanya. 😀

Sang kreator dan produser, Yashushi Akimoto, tidak segan-segan memamerkan sensualitas dalam lirik maupun tampilan AKB48 karena situasi Jepang yang memang sudah terbiasa dengan industri film dewasa. Imej itu menjadi ciri khas penarik massa pria yang diteruskan pada semua sister group lainnya, termasuk JKT48. Sepaket dengan sensualitas, dia juga menawarkan sensasi youthfulness yang terlihat jenaka kekanak-kanakan. Makanya saat konser kemarin, saya bisa melihat setiap anggota JKT48 tidak berbicara, bergerak, maupun bertingkah dengan normal, melainkan dengan gaya jenaka kekanak-kanakan yang sengaja berlebihan.

Jika sering menonton serial Asia, pasti Anda mengerti gaya yang saya maksud. Di Jepang dikenal istilah ‘kawaii‘ yang kurang lebih berarti lucu menggemaskan, di Korea ada istilah serupa ‘kyeopta‘ dan ‘aegyo‘ yang berarti tingkah lucu polos kekanak-kanakan. Padanan yang paling mendekati di Bahasa Inggris adalah ‘winsome‘ yang formalnya berarti ‘comel‘ dalam bahasa Indonesia; kata ‘comel‘ masih sulit dimengerti, jadi saya menciptakan istilah sendiri ‘kyuut‘ yang diserap dari bentuk fonemik ‘cute‘. Menurut saya, kombinasi sensualitas dan ke-kyuut-an inilah, sesuai dengan prinsip psikologi evolusi, yang menghantarkan AKB48 dan JKT48 ke tangga popularitas.

Untuk menambah kelegitan rasa, Mr. Akimoto memberi slogan ‘idols you can meet everyday‘ yang berarti para penggemar diajak berpartisipasi melihat, mendukung, mempengaruhi, dan menikmati perkembangan idol-nya menjadi seorang superstar. Jika Western Pop dan Asian Pop menampilkan idol yang sudah tercetak matang sempurna, Mr. Akimoto dengan sengaja menciptakan idol yang belum sempurna. “The biggest difference is that the AKB48 are ‘incomplete’. They’re still not very good at singing or dancing. The fans are supporting the girls and cheering them on as they gradually get better,” demikian ucap sang otak jenius.

JKT48 menampilkan figur-figur muda yang diatur agar terlihat (lebih) muda, bertumbuh dan bersemangat untuk belajar, lagi-lagi imej yang sejalan dengan prinsip psikologis yang sudah saya jelaskan dari tadi. “Because the girls are really cute, the attraction for people is that they imagine them as their girlfriends. Girls who are around the same age as the AKB girls try to become like them and work really hard towards that. With the older generations, it’s not that they are striving to realize their dreams like AKB, but they want to cheer the girls on!ungkap Mr. Akimoto seperti ingin mendukung penuturan wota yang saya wawancarai di atas.

Jika sang kreatornya sendiri memang mengakui adanya faktor fantasi platonik/romantik/seksual dalam JKT48, rasanya kita tidak perlu berdebat lebih panjang lagi. Dibalik semua kecaman negatif terhadap JKT48, saya selalu memandangnya sebagai sebuah kreasi bisnis yang luar biasa. Konsep JKT48 bisa saya sejajarkan dengan serial Heroes dan Glee yang sukses menarik pasar luas karena masing-masing orang memiliki sosok protagonisnya sendiri dalam kedua serial itu, sama seperti para wota memiliki oshi yang berbeda-beda dalam satu kelompok. Fakta itu juga jadi peneguhan atas apa yang saya lakukan dalam Hitman System dan Kelas Cinta. Ah tapi itu pembahasan untuk lain kali saja.

Jadi demikianlah laporan saya tentang pengalaman terjun ke teater JKT48. Tulisan panjang ini baru mengulas sebagian kecil pengamatan saya kemarin, sisa pengamatan lainnya mungkin akan saya tuangkan dalam bentuk artikel di KelasCinta.com. Bayangkan dimensi-dimensi apa saja yang bisa digali jika saya datang menonton konser JKT48 lagi. Pastinya studi santai ini akan bisa jauh lebih kaya dan luas, sekaligus ada kemungkinan bosus saya menemukan dengan oshi saya. Seperti kata penulis dan kartunis kisah anak-anak, Dr Seuss, “When a guy does something stupid once, well that’s because he’s a guy. But if he does the same stupid thing twice or more, that’s usually about a girl.

Jadi siapa mau menemani saya nonton teater JKT48 yang berikutnya? 😉

Tiket dan souvenir show malam itu.

Tiket dan souvenir show dari Tata malam itu.

 

Salam revolusi,

Lex dePraxis
 Twitter  Facebook


134 Responses to JKT48, Wota, dan Cinta

  1. BEGO SUMPA BEGO BANGETT YG NULIS INI GA PKE OTAK,,, BOLOS YAK WAKTU TUHAN BAGI2 OTAK? KLO LO GA NGERTI APA2 D JKT48 JGN BANYAK BACOT DEH!!!!!!PASTI BUTA JUGA KRN UDAH SMT DATENG TEATER TPI GA BS LIAT JKT48 NTU TULUS BANGET,,, BYK BAKAT, PTR MAU KERJAKERAS,,,.. MASIH MUDA TPI BISA TERHORMAT JADI INSEPIRATIF BYK ORG,, TULISAN LO BACOT PANJANG NGINA GITU,,,,DASAR TOLOL!

  2. Semua benar, Semua tulisan yang ada di sini sama persis dengan yang saya pikirkan semenjak kenal JKT48. Artikel2nya, komentar2nya, Brilliant ! Saya juga beberapa kali menulis beberapa pandangan saya tentang idol group yang satu ini di blog saya asemanisblog.blogspot.com

  3. Ini opini pribadi saya, secara keseluruhan artikel ini bagus. Hanya saja kadang penulis terlalu asyik memaparkan sehinga terasa seperti berbelok-belok dulu sebelum lurus.

    Sebenarnya saya lebih suka memakai gaya penulisan yang lebih sederhana. Jikapun memang ada istilah ada baiknya ditulis sebagai catatan kaki.

    Sepertinya saya akan komentar begini di artikelnya

  4. nice artikel gan 🙂
    tapi bakal superrrr niiiiceeee lagi kalo ditambah nonton theater Tim J (bakal jd pengalaman tersendiri, soalnya antara Tim J dan Tim KIII memiliki feel yg berbeda)…sama ikut handshake event klo ada waktu, soalnya disitu bisa ditemukan keanehan, keunikan, kelucuan saat fans berjabat tangan sama member :3

  5. Bung Lex terima kasih atas artikelnya yg komprehensif dan mendalam ini. 😀 Sayang saya tidak ikut nonton bareng pas tgl 1 itu. Seenggaknya saya bisa bantu sharing2 info soal JKT and stuffs. :p Oh ya, saya follow hitmansystem dan kelascinta juga, mungkin lain waktu kita bisa nonton teater bareng lagi, ntah show tim J atau tim K 😀 cek aja jadwalnya di website JKT di http://www.jkt48.com

  6. Haha….saya suka ini Lex, frontal tapi realita 😀
    Saya juga seorang fans (Lebih tepatnya saya menyebut diri saya “Fans Numpang Lewat”) karena tidak pernah bertemu dengan idola saya atau bahkan berfikir untuk pergi ke theater. Karena saya sendiri mungkin sama seperti Lex, saya lebih suka menganalisa para fans ketimbang ngidol bareng mereka.

    Kalau soal “sensualitas” dari JKT48 sendiri saya tidak merasakan sama sekali, baik mereka menggunakan rok mini sekalipun saya tidak merasa “Ada sesuatu” dalam diri saya.. XD
    Karena saya memang menempatkan mereka pada tempatnya, yaitu “Idola” bukan mainan yang bisa kita pakai buat berhayal negatif 🙂 (Tapi saya cowo normal loh 😀 )

    Yah, semoga postingan ini bisa membantu fans “Jernih” menyadarkan para wota bahwa idola punya tempat mereka sendiri, dan tau bagaimana menghadapi heaters yang sering mencaci maki JKT48.

    [+] Sedikit saran, mungkin Lex bisa bahas kehidupan kelompok fans JKT48 di beberapa daerah dan apa aja bentuk dukungan mereka 🙂

    Nice post

    • terima kasih sudah membaca sampai selesai. 🙂 anyways, jadi maksudnya Anda akan tetap jadi fans (numpang lewat) seandainya JKT48 adalah anak laki-laki? artinya Anda tidak jadi fans (numpang lewat) karena tertarik daya tarik keindahan JKT48 girls?

  7. makasih udah tulis artikel yang super bagus ini 😀
    jadi semacam bahan perenungan wota nih hahaha

    Gw sendiri udah ngefans sama JKT sejak awal karir mereka (sekitar februari 2012)
    Tapi setelah gw membaca kesleuruhan artikel ini, gw menyimpulkan kalo agan menitik beratkan sama interaksi antara idol dan fans dan efek delusionalnya. Ane akui itu sih :v
    Tapi percaya ato ga, faktor terkuat ane ngefans sama JKT48 adalah performance nya. Ya, bs dibilang koreografi mereka rumit u/ ukuran grup vokal. Dan ane sangat terhibur dgn performa mereka itu, apalagi di lagu RIVER, ane sampe geleng2 takjub

    Mungkin di rsiet selanjutnya agan bs mendalami lg alasan para wota ngefans sama JKT48, ane yakin pasti bkn cm ane doang yg fetish ke kualitas performance 9terutama koreografi) mereka. Btw, ane cowo tulen loh, yg sama sekali ga tau dance 😀

  8. Artikel yg sangat menarik Lex. Sejujurnya sy mulai tertarik dengan JKT48 belum lama, sekitar 2 bulan ini. Sama dengan kesukaan saya dengan genre musik yg lain seperti grunge, metal, post-rock, maupun folk, sy jatuh cinta dengan JKT48 karena lagunya, beruntung sy dibuat akhirnya luluh dengan lagu River. Dengan power yg epic dan lirik lagu yang sangat super mulailah nyandu saya dengan idol group ini. Dan di sinilah kehebatan Akimoto sensei mengemas sebuah industri hiburan yang sangat berbeda dengan yg Indonesia kenal selama ini dengan mengemas konsep idol group yang mengisahkan seorang yang berjuang meraih mimpinya. Lagu yang sangat ear catching dengan lirik yang memotivasi tidak hanya utk anak remaja tapi juga oleh kalangan yang lebih adult seperti saya. Tidak cukup dengan lagu yg enjoyable, tapi JKT48 dikemas dengan berbagai acara talkshow dan variety show (di Indonesia maupun di Jepang) yang secara ajaib membuat saya lepas mengeluarkan tawa. Ibarat naik haji, sy belum menunaikan rukun yang paling terakhir yaitu melihat langsung JKT48 di theater, tetapi akan sangat menyenangkan untuk menunggu moment tersebut. Kembali lagi mengenai sensualitas yg alex bahas, walaupun sy memiliki healthy sexual appetite dan active sex, tetapi kekaguman sy dengan JKT48 bukan hanya sekedar packaging dan penampilan yg ‘menjual’ di mata laki-laki yang sangat didewakan di industri hiburan saat ini, tetapi tidak lebih dari karya utama mereka yakni lagu dan performance mereka. 😀

    • halo mas faizal,
      kalau tidak salah yang disebut karya lirik dan koreografi JKT48 adalah penerjemahan atau adaptasi dari karya dalam album milik sister di jepangnya.
      member mungkin lebih tepatnya dilatih untuk dapat membawakan bukan dilatih untuk menciptakan karya. (*hingga saat ini)
      cmiiw

  9. jujur gua sendiri menyukai jkt pertama garagara “keimutan” yang ditampilin para membernya, semakin jauh kedalam, gua semakin dibuat terlena, bukan karena muka menggemaskan para membernya atau sensualitas yang ditampilkan, tapi karena lagu lagu yang mereka bawakan itu punya semacam candu buat gua sendiri yang sangat suka dengan musik. intinya sih, gua juga setuju banget kalo mereka itu bukanlah sebuah grup musik, suara mereka, biasa aja, cenderung jelek malah. tapi ya, sang produsernya itu memang sangat pinter mencari celah di tengah persaingan dunia entertainment sekarang ini. tapi kalo kita suka lagunya, otomatis kita jadi sering ngeliat para membernya juga, ya jadinya sekarang gua jadi suka semuanya yang berhubungan sama mereka deh haha. tapi jujur, gua ga pernah mikir berdelusi tentang mereka sampe ke arah sensual. heheh

  10. mau koreksi beberapa aja. yang pertama, JKT48 itu bukan franchise, mungkin lebih tepat disebut cabang karna yang mempunyai ide, membangun dan membuat itu si empunya 48 sendiri.

    dan mungkin kak Lex sebagai orang awam masih aga asing dengan taktik menarik dari segi sensualitas dan per-ilahi-an seperti ini. tapi faktanya, rata2 dunia entertainment di Jepang emang punya taktik seperti ini loh.
    mereka menjaga imej si idola seakan ‘tokoh fiksional yang tak tergapai’, dan tujuan mereka bukan membuat penonton ‘senang’, tapi ‘horny’. 😀

    apa?gaboleh punya pacar itu demi fans? ga lah, itu biar image pure mereka ga terkotori di mata fans kok. kalo terkotori, fansnya bisa2 ga fanatik lagi dong 😀

    intinya… bisa panjang banget lah kalo saya jelasin satu2. (karna saya kebetulan emang suka mengamati dunia musik Jepang, karena sangat unik bagi saya. ) btw saya penikmat musik 48 juga. tapi saya bukan wota ato orang yang suka delusional ya, saya cewe kok. hihi

    tapi kurang lebih analisa kak Lex 80%tepat loh. hebat, padahal baru aja demen JKTnya 😀

  11. Tulisan yang bagus. Satu hal lagi yang membedakan AKB dan JKT yaitu gravure. Hal ini yang menurut gw mengapa fandom jkt tidak terlalu menngarah ke sensualitas (dibanding AKB). Ditunggu postingan berikutnya setelah kunjungan teater ke 2 dan ke 3.

  12. Sipp, research & pembahasannya oke bro. Ternyata yang sakti memang konseptornya = sang produser 😀
    Gw pertama kali tertarik JKT karena denger aransemen musik2nya, karena menurut gw inspiratif banget.
    Ya karena saya laki-laki dan kebetulan member2nya perempuan “kyuut”, jadi sekalian deh hahaha
    Penasaran juga sih sama theaternya, kbetulan belum pernah kesana jg. Boleh lah bareng kalo mau kesana lagi bro 😀

  13. artikel yang bagus dan lumayan ngakak gara-gara beberapa kata, jujur saya sebagai fans lama emang pengen banget nonton teater tapi sayang jarak memisahkan… T_T.. saya fans tapi gak mau dipanggil wota, karena wota itu kesannya buruk..

  14. Gue salut deh sama mastah Lex ini.

    Baru nonton sekali udah melakukan pengamatan yang luar biasa kayak gini..

    Gue yang suka JKT48 (entah udah tergolong wota apa bukan) belum pernah nonton theater krn alasan ticketing nya yang ribet..

    Oh ya btw ini apakah berencana utk mendatangkan member JKT48 u/ jadi “guess star” di workshop HS u/ membuat para wota menjadi pria glossy? *just a random question

  15. artikel yg lumayan. suka kesal dgn pendapat orang2 yg menganggap para wota mendukung JKT48 ataupun sister group lainnya cuma karena bahan fantasi seksual semata. kalau memang tujuannya demikian, pasti lebih memilih menggemari Ebisu Muscat bukan AKBfamily. 😉

  16. Thanks buat artikelnya Lex, akhirnya ada juga orang yang memuat artikel ini, semoga bagi wota yang telah membaca artikel ini bisa memilih keputusan tentang JKT48 dengan bijak,
    By the way gue suka banget sama prinsip Kintaro yang elo terapin, keep study Lex 😀

  17. Bagus gan blognya, insight banget ^^..Ilmiah dan tidak mengada-ngada..

    Saya suka JKT48 tapi belum pernah nonton theaternya, karena takut seperti WOTA Fanatik. Soalnya pemujaan berlebihan gak sehat menurutku. Tulisan Anda membuat saya tidak perlu melakukan riset sendiri hehehe.. At least. Melalui blog ini, saya bisa sangat merasakan pengalaman Anda. Ingin mengenal tetapi tidak ingin terlalu kecemplung, hehehe..(just my opinio)

    Harus diakui sih mereka punya kharisma, cute dan lain-lain yang bisa menghipnotis penggemarnya..Saya juga terhipnotis dan bisa senyum-senyum sendiri kalau lihat di YouTUbe..

    Thanks ya Gan, blog dengan tulisan yang sangat bermutu..

    • thank you for visiting. tidak perlu nonton ke teater, karena efeknya tidak sebegitunya.. kecuali Anda memang sudah terlalu ngefans dari awal. 🙂

    • pacar saya habis baca ini makin insyekur dan ngata2in saya hehehe. padahal saya belum pernah ke theater. ada rencana kesana pun karena penasaran. btw, artikelnya bagus. ngebongkar aib juga sih kenapa laki laki banyak yg seneng ke theater hahaha

  18. wah.. gk nyangka juga sampe ngbahas jkt48. tapi bagus baru pertama kali nonton teater tp sudah bisa membahas segini dalamnya.. ditunggu artikel ttg jkt48 yg lainnya dan bisa membahas dari aspek” yg lainnya juga. btw itu nontonnya pas tgl 1Okt kemaren ya..?

  19. Sangat ilmiah sekali ulasannya Lex, JKT48 memang berbeda dri fenomena approach cowok mendekati cewek. Semakin berkembang teori2 barumu Lex ane fans jg. Setlist tim K skrg Boku No Taiyo lyricnya bnyk mslh kehidupan sehari2, motivasi dan percintaan. Cocok untuk pria semua kalangan 🙂 Intinya INTERAKSI lebih tajam jika dibandingkan hanya SEKSI

  20. Saya mau tanya donk. Kok bisa ya ada banyak fans yang rutin datang nonton setiap ada show, padahal lagu & member yang perform sama. Salah satu contohnya, saya :'( . Bahas dari sisi psikologis ya, thx!

  21. Walaupun awalnya gw merasa lo hanya riding their popularity for you exposure(yg gw pikir berhasil! I didntt even know you. lol) but you’ve done your homework. okelah

    Penjabaran lo tntg jkt48 bisa dibilang cukup akurat dan netral walau disini lebih fokus membahas dari sisi sensualitas dan delusinya.

    Jkt48 punya banyak “appeals” yg membuat orang menjadi tertarik dari berbagai kalangan mulai dari pervert old men, horny delusional teenagers, naive fans who think they are sincerely supporting their idol, music(jpop/jrock) enthusiasts, or even people who admire their bussiness and marketing strategies dan masih banyak lagi lainnya.

    Tapi mungkin bisa dimaklumi knp lo hanya fokus di satu sisi itu aja karna.. hmm masih berkaitan dgn bidang lo..?

    • thank you for visiting, reading, and even replying to this. iya, saya aware dengan ‘multi appeals’ itu seperti yang saya angkat sedikit di bagian akhir tentang perbandingan ke Heroes/Glee. angle yang saya pilih memang tentang sensualitas dan delusi harapan/hubungan, karena menurut saya pribadi dua hal itu merupakan kunci utama yang membuat strategi marketing dan keputusan bisnis lainnya jadi (lebih) berhasil.

  22. I want to make a correction that wota is not an abbreviation of otaku, but rather a subtype. (Wota and ota use different characters in Japanese.) Wota specifically refers to otaku who follow Japanese idols. There are many types of otaku, such as densha otaku (train enthusiasts). One wouldn’t refer to a train enthusiast as a wota.

  23. Bagi sebagian orang jkt48 mungkin hanya another girlband/idolgroup tapi yg pasti kemunculan jkt48 mengubah definisi of “being a fan of a girl group”

  24. Lex, kan ada 2 setlist tuh. Yang elo tonton itu Boku no Taiyou yang di-perform oleh Team KIII. Minimal elo harus nonton Rinai Kinshi Jourei yang di-perform oleh Team J. Elo akan dape feel yang berbeda, karena karakter team-nya sendiri berbeda.

    Anyway, artikel bagus, setidaknya untuk pengamatan perdana. Namun itu baru sebagian kecil aja. Tonton beberapa kali lagi, ngerasain sesi handshake, mungkin artikel elo akan bisa jadi lebih komprehensif lagi.

    • sure bakalan coba cek Rinai Kinshi Jourei suatu saat, cos pas baca-baca katanya Mr. Akimoto emang tiap tim dibuat slightly beda feel ya. thank you for reading! 🙂

    • mengingat saya baru pertama kali nonton dan sudah bisa menggali akar-akar penentu kesuksesan JKT48, rasanya ini sudah cukup dalam.. justru yang masih kurang adalah lebar/luasnya. 🙂

  25. itu menurut sebagian fans yg berlebihan dan anda yg hanya melihat sensualitasnya, tp bagi saya tdk, sy menyukai lagunya, walaupun agak ga nyambung tapi ada lirik yg nyambung dan bermakna, emg jkt48 kbnykn lipsync, tp sy pernah melihat mereka tdk lipsync d salah satu acara talkshow dan suara mereka bagus

Leave a Reply