Pencak Silat dan Storytelling

Saatnya nulis santai… Beberapa minggu ini gue sibuk marathon ngerjain sejumlah e-book: 13 Kesalahan Fatal Pria & 52 Pertanyaan Super-Ajaib (versi 4.0, penambahan 20 halaman dari versi sebelumnya), T3 (judul lengkap masih dirahasiakan, launching soon), Strategi Anti Ngarep v2.0 (tinggal 30% lagi menuju final edition), dan terakhir The Forbidden Formula : Unleashing The Best-Kept Underground Secret Law of Romantic Attraction (versi 2.0 dari The Secret, penambahan 30 halaman dengan jumlah total 80 tips dan tehnik).

Kalo ditanya gimana perasaannya? Mabok!

So di tengah-tengah itu semua, betapa bahagianya saat tempo hari gue kesandung dengan sebuah film ‘dokumenter’ yang sangat-sangat menghibur: Human Weapons – Episode Pencak Silat. It was both entertaining and hillarious!!! Gue sampe nonton ulang tiga kali… plus iseng mainin game flash-nya.

Bagi yang belum tahu, Human Weapon adalah acara TV menampilkan Jason Chambers (mantan petarung profesional MMA) dan Bill Duff (mantan pemain football pro dan gulat) yang keliling dunia untuk belajar ilmu-ilmu bela diri yang unik dan legendaris. Di akhir setiap episode, salah satu dari mereka akan ditandingkan dengan representatif dari ilmu bela diri yang bersangkutan.

Gue belum nonton yang lain, tapi kayaknya episode Pencak Silat ini kayaknya salah satu yang paling kocak dan menggelikan. Gue ngga bisa berhenti ketawa sekaligus merinding di sepanjang show selama 44 menit itu.

Kenapa? Karena kebanyakan kita tahu kalo Silat ngga sekeren, secanggih, seefektif, atau apalagi mematikan, tapi si kedua host bisa memaparkan kisah mereka dengan sangatekspresif sehingga kita bisa jadi tergerak ‘klik’ dengan penjabarannya, dan bahkan mungkin jadi percaya kalo Silat adalah bela diri yang mematikan. Apalagi para bule-bule lain atau orang yang ngga pernah kenal budaya Melayu, mereka akan percaya abis dengan kebrutalan Pencak Silat sebagaimana digambarkan oleh Jason dan Bill.

In other words, they’re storytelling (baca: bulshitting) to the max. And it’s beautifully done. 😀 Saking kerennya penampilan akting mereka, gue sampe ngewajibin setiap alumni untuk nonton supaya bisa pelajarin contoh aplikasi storytelling tools yang udah diajarin dalam workshop.

Mengingat kedua host itu punya background olahraga kontak fisik beneran, ngga kebayang berapa banyak mereka juga cekikikan geli kalo lagi off-scene ngebicarain tehnik-tehnik ‘dansa’ Silat yang dipelajarin di sana. Great acting, great storytelling, and great laughs too. Perlu dapet nominasi Academy Award nih mereka..

Kalau pun mereka ada capek di sepanjang syuting, pasti bukan karena pertarungannya atau latihan bela diri, tapi capek ketawa dan mikirin cara ngomong bullshit apa lagi yang harus mereka sampein di depan kamera karena basically ilmu Pencak Silatlebih banyak ke mitos dan seni pertunjukan daripada real fighting.

Coba lihat beberapa skrip sampel kalimat mereka. Secara verbal aja udah tajem abis, apalagi diliat ekspresi body language-nya:

We’ve travelled to the island of Malaysia to unlock the secret of fighting system so deadly that it help locals to expell 3 global powers…

… in our quest in understanding this mysterious martial art …

… the brutal art of Silat was used to fend off these invaders…

… incorporating kicks, punches, takedowns, and weapons, Silat isn’t a sport. It’s a fighting form with only one purpose: kill you enemies, before they kill you.

… the one thing that stands most in Silat is that how brutal this art is …

… this is amazing, it’s acrobatic, it’s brutal, it’s athletic, I can’t wait to start learning.

… this fighting form is as popular as it is vicious.

Gue kontan teriak “YEAH RIGHT!” ketika dengar kalimat yang terakhir itu, ahahaha…

So, do watch the movie, guys! Gue tahu koneksi internet di Indo payah dan itu ukuran film-nya besar, tapi so worth it. Bisa belajar banyak tentang storytelling, sekaligus ngakak-ngakak ngeliat dua bule yang udah kikuk belajar tehnik tradisional yang aneh bin tidak-efektif, plus kudu terpaksa ngeboong juga tentang kedahsyatannya. And sedikit intermezzo, ternyata Batman juga menguasai Pencak Silat, ini buktinya diambil dari Countdown: Arena yang bercerita tentang pertarungan 3 Batman dari 3 Universe: KLIK!

Walaupun merasa begitu, gue juga yakin di tangan orang-orang tertentu dan di kondisi tertentu, pencak silat bisa jadi bela diri yang sangat dahsyat dan berbahaya. Misalnya ga lama berselang setelah nonton itu, gue nemu info tentang film MERANTAU, sebuah drama aksi yang mengangkat ilmu bela diri Pencak Silat Harimau dibawah pengarahan sutradara asal Inggris, Gareth Evans. Setelah nonton trailer-nya, sekalipun keren and cukup memancing antisipasi, sulit banget untuk ngilangin impresi kalo si produser film pengen menduplikasi kesuksesan Ongbak. Semua sama persis, mulai dari nuansa gaya kamera sampai ke adegan tempurnya.

Yang jelas, di film Merantau kayaknya silat dimunculkan sebagai bela diri yang efektif, dihilangkan semua unsur-unsur tarian omong kosongnya seperti yang berjibun terlihat dalam dokumentasi Human Weapons di atas. It would be fun to watch, I think. Mudah-mudahan bukan sekedar tontonan ala serial TV Deru Debu dan Jalan Membara dari sekitar satu dekade yang lalu.

Speaking about TV serials, belakangan ini gue lagi nontonin The Cleaner. Untuk pertama kalinya ada satu serial yang mulai dari konsep kisah, pengembangan intrik, tantangan dan konflik, masalah yang harus dia hadapin, sampai karakterisasi protagonisnya nyambung banget 100% dengan kehidupan gue selama ini… sebegitu relate-nya, gue selalu nangis di setiap episode.

It’s like watching a movie about myself, realizing how strange, hard and steep this road I’ve taken over the years. So friends, if you still want to get to know Lex a little bit more after reading this entry, especially on how and why I do the things that I do, go catch The Cleaner.

Uhm, kok mendadak jadi melenceng mellow gini…

Anyways, gotta back working at HS materials. Masih numpuk banyak banget, apalagi berhubung ada agenda besar dan beberapa kelas baru yang siap diluncurin dalam waktu dekat. Oh ya, buat you guys yang ikutan Facebook Challenge, pastiin udah ngelengkapin semua CARA KERJA-nya supaya bisa terpilih jadi pemenang, okay?


84 Responses to Pencak Silat dan Storytelling

  1. oh iya tambahan, bulan oktober kemarin, kang suwanda yang wajahnya saudara tampangin diartikel, habis ngadain workshop silat di rebel gym, sumbernya jagoan2 mixed martial art.
    dan mereka yang mengikuti workshopnya juga memuji skill kang suwanda.
    jadi sekali lagi, tolong kalau berbicara dengan fakta dong, dan hati2 kalo nyomot sample karena bisa menimbulkan fitnah…

  2. hehehe ketipu link google, tapi emang setuju seratus persen ama ndathemarketer, emang HS jago silat internet 😛
    tapi emang ane salut ama silat tradisional, sederhana tapi mengena, jadi buat semua yang ngatain PS tradisional itu bullshit, silahkan datang dan buktikan ke padepokan silat tmii, sekalian bawa tuh blackbelt beladiri yang dijagoin.
    saya enggak ngatain bahwa silat lebih tinggi dari beladiri yang lain, tapi cuma mau ngatain bahwa silat tradisional itu EFEKTIF.

  3. si penulis bener2 hebat. ahli story line, pinter marketing, dan bisa mengundang trafic yang tinggi. Diliat dari tulisannya, ini semua hanya pendapat (low fact), tapi bukan itu kehebatannya. Dia sengaja menyentil semua orang indonesia (terutama ahli silat), dan menampilkan topic yang sangat menarik, dan mengundang untuk dikomentari (siapa tau mungkin si penulis sebenernya suka sama silat/not interesting at all)… tapi apapun itu. Penulis blog ini telah berhasil membuat blognya menarik, dengan topik yang menyentil hati semua orang. two thumbs up

  4. sebenarnya maksud dari kalimat ini ditujukan kemana
    “karena basically ilmu Pencak Silat lebih banyak ke mitos dan seni pertunjukan daripada real fighting.”

    klo ke acara HW ya memang terlihat “Bombastis “
    tapi kalau maksudnya mengarah ke Pencak Silat,
    Pencak Silat seperti yang mana?
    Pencak-Silat adalah “Umbrella Term” untuk ratusan aliran bela-diri di Indonesia.

    Klo menurut anda silat cuma mitos dan seni pertunjukan,
    Datang saja ke padepokan silat TMII tiap hari Sabtu & Minggu dan tes skill MA mereka.

  5. '…Karena kita semua tahu persis kalo Silat ngga sekeren, secanggih, seefektif, atau apalagi mematikan”
    “…basically ilmu Pencak Silat lebih banyak ke mitos dan seni pertunjukan daripada real fighting”

    sorry ya om ane kritik….ada kesalahan disini yaitu anda kurang memahami fakta
    yah..fakta tentang silat…
    ane sbg praktisi beladiri walaupun bukan silat dgn jujur mengakui bahwa beberapa aliran silat punya tekhnik yg efisien dan mematikan…
    hampir 10 tahun ini ane berlatih beladiri jeetkune do, karate kyokusin, muay thai..memang dulu ane tdk prnah tertarik dgn “silat” tetapi perkenalan ane dgn bbrapa praktisi silat membuat ane sadar..bahwa ternyata silat tidak bisa dipandang sebelah mata..

    jadi kurang tepat sepertinya pendapat anda ttg silat..

  6. @loker jakarta :silat adalah seni yg brsal dr semenanjung melayu (indo,malay,brunei)
    @admin : sy tegaskan di silat ada dua aliran =seni beladiri
    seni pertunjukan
    yg satu sm lain berbeda (jgn asal nulis dong)

  7. Wakakakakakak…Malam ini pengen nonto2 silat-silatt keren, eh tahunya ketemu artikel yang agak 'kritis' terhadap silat…But honestly, mungkin abang nggak cocok ngomngin silat, jagonya ngomngin cinta aja deh (teman saya ada yg nge-fanss web ini loh! wkwkwk)..

    Tapi kalau secara intelektual ni ya…tulisan mas yg ini tidak berkualitas atau setidaknya menunjukan tidak berkualitas dalam bidang tulisan silat, heheh, jujur, no offense. Soale ngomngnya kurang komperhensive..apalagi kalau ternyata abang bukan pesilat..akakaka…yah jadi kelihatan asal ngomong doang. Bisa jadi preseden buruk ..udah ah…mau nonton silat lagi

  8. @robin
    Bullshit
    di saat krisis ekonomi begini apa sih yang ngga dijual indo? Telkomsel? Satelindo? Rahasia silat? *senyum2 lihat kebodohan mas Robin

  9. Mas.. Kata siapa silat tidak efektif dan tidak mematikan? saya heran, anda seorang yang expert dalam beladiri atau bukan? Saya orang yang juga belajar kung fu, dan taukah anda? Silat jauh lebih efektif dan mematikan, gerakannya singkat, dan memang brutal.. Masalahnya jangan lihat “pencak”nya, kalo pencak memang untuk seni saja, seperti “wushu” yang kebanyakan bunganya, beda sekali dgn kungfu.. Anda pernah mengamati silat apa? Apakah anda pernah belajar silat betsi? atau silat kumango, silat harimau, dan silat langkah tiga? Atau mungkin anda tidak tuntas belajar sehingga belum dibukakan berbagai tekhnik2 rahasianya? masalahnya memang di silat diajarkan untuk tidak jadi eksebisionis ! Dan biasanya para pesilat yang udah master tidak pernah mau memperlihatkan keahlian yang sesungguhnya.. Biasanya jurus2 mematikan itu hanya diajarkan pada orang yang sudah teruji loyalitas dan komitmennya, dipandang arif dan bijaksana, dan jelas identitasnya.. Tidak mungkin diajarkan pada orang2 yang hanya datang sesaat sekedar memproduksi sebuah acara seperti ini..

  10. Nice post bos,,ahh ngantuk,
    oh ya,selain blogwolking ini tadi mau minta restu sama semua guru guru seo semuanya,doain saya menang kontes,lagi kanker nich,kalo perlu,yang master gak usah ikut aja hehehehe

Leave a Reply