Lima Aksi Menuju Bahagia, Instan!

Kenapa wanita suka bajingan

“Lex, kenapa ya gue kok jarang merasa bahagia, kayaknya gampang naik-turun sama situasi, jadinya gue capek dan pengen ngeluh terus. Tolong hipnotis gue dong supaya sembuh,” pinta seorang sahabat dengan wajah layu dan tatapan kucing Shrek. “Sembuh?” jawab saya, “Siapa bilang elo sakit? Jadi buat apa dihipnotis? Elo cuman belum ngelakuin rahasia instan yang bisa bikin elo bahagia..” Ia menahan napas, berharap saya segera melanjutkan penjelasan kalimat tersebut. Oh Anda juga? Bagus, teruskan membaca..

Saya sudah jelaskan tempo hari bahwa materialisme dan kekayaan tidak pernah menjadi rahasia dari kebahagiaan. Orang yang bekerja demi kemapanan hidup justru akan menemukan dirinya tidak bahagia. Richard Layar menulis dalam bukunya, Happiness: Lessons From A New Science, bahwa sekalipun Indonesia secara rata-rata angka gaji tahunan hanya 1/10 dari Amerika Serikat, namun survei terbaru menunjukkan tingkat kebahagiaan kita cukup sebanding dengan orang-orang bule di sana.

Kebahagiaan adalah by-product, atau hasil atau efek, dari sebuah hidup yang bermakna, setidaknya itulah definisi saya. Tapi jika Anda terlalu malas atau terlalu sibuk untuk berfilosofis seperti itu, Anda bisa meniru lima tindakan saya untuk menciptakan rasa bahagia dengan instan. Jika Anda skeptis, tidak masalah.. itu sebabnya saya sertakan kutipan pendukung keilmiahannya. Baca, lakukan, dan nikmati hasilnya…

  • Membuat senyuman di bibir. Sekalipun Anda mungkin memaksakan diri, otak Anda tidak bisa membedakan senyum sungguhan dan senyum pura-pura karena keduanya membutuhkan jaringan otot yang sama. Akibatnya, gerakan otot itu akan memicu otak melepaskan hormon endorfin yang membuat Anda lebih ringan, lepas, dan bahagia. Dalam bukunya, Blink, Malcom Gladwell mengkonfirmasi ini dengan menceritakan hasil penelitian bahwa Anda bisa merasa instan bahagia dengan memberikan senyum dan mendorong otot tubuh lainnya seperti ketika sedang merasa bahagia: “In one experiment, two groups of people were shown the same cartoons. One group watched the cartoons while a device held their mouths in a stretched position similar to a smile. The ‘smiling’ group invariably found the cartoons funnier. Translation: if you need a lift, just try smiling. We can also cause ourselves to feel emotions when we imitate the facial expressions associated with them.
     
  • Berciuman. Ciuman yang hangat (dan juga panas!) dapat menghembuskan angin yang mengusir masalah Anda dan menyejukkan pada jiwa Anda. Ini hampir sama dengan efek senyuman di atas yang disampaikan oleh Michelle Kay Mcnabb, seorang stress consultant, berikut ini, “When your mouth is in a kissing position, you’re almost smiling and, as our emotions and body language are so closely linked, it’s almost impossible to smile and feel tense at the same time. Also, your breathing becomes deeper and your eyes close when you kiss in the way that you do when you relax. It’s a perfect way to shut out the world.” Bukan saja Anda yang menjadi bahagia, pasangan Anda juga tentunya akan merasakan hal yang sama.
     
  • Berbagi kebaikan dan menolong orang lain. Bahasa kerennya adalah bersikap altruis. Stephen G. Post, seorang profesor di Case Western Reserve University School of Medicine, bekerja sama dengan The Institute For Research On Unlimited Love menyelenggarakan 50 buah riset dengan hasil kesimpulan sebagai berikut, “Helping a neighbor, volunteering, or donating goods and services results in a ‘helper’s high’ and you get more health benefits than you would from exercise or quitting smoking. Listening to a friend, passing on your skills, celebrating others’ successes, and forgiveness also contribute to happiness.” Saya pribadi punya satu kebiasaan kecil sehubungan prinsip ini: jika sedang stress, saya akan mentraktir orang makan. Saya bahagia, mereka kenyang dan bahagia, semua senang.
     
  • Olahraga. Jujur saja, saya paling malas melakukan poin ini dibanding poin lainnya, namun efek bahagia yang didapatkan terasa berdurasi jauh lebih panjang dan tahan lama. Silakan pilih sendiri olahraga yang paling mudah dilakukan sesuai dengan situasi; saya pribadi biasanya memilih sit-up atau push-up. Richard Merrit dari Duke University menulis, “Exercise may be just as effective as drugs in treating depression, without all the side effects and expense. Exercise offers a sense of happiness, accomplishment and opportunity for social interaction, releases feel-good endorphins, and boosts self-esteem.” Kemarin malam, seorang sahabat saya, Loop V, juga menjelaskan bahwa kegiatan olah tubuh akan memacu jantung untuk lebih banyak menarik oksigen yang dapat membuat pikiran terkendali dan tenang. Jadi jangan anggap sepele aktivitas ini, oke?
     
  • Memberikan uang pada orang. Ah, ini satu lagi kebiasaan ‘aneh’ saya dari dulu. Saya sering sekali bepergian dengan taksi. Jika suatu saat saya dilanda mood buruk, setelah membayar taksi sesuai argo ketika sampai di tujuan, saya akan berpura-pura menemukan uang lima puluh ribu tergeletak di dasar kaki dan memberikannya kepada sang supir. Saya sengaja menggunakan skenario itu supaya sang sopir tidak merasa itu adalah uang dari saya dan dia juga tidak bisa menolak karena penumpang sebelumnya entah berada di mana. Uang yang mungkin tidak seberapa buat saya, namun sangat berarti bagi para pengemudi taksi itu. Elizabeth Dunn, seorang peneliti dan psikolog di University of British Columbia mengkonfirmasi perilaku ini, “Those who spend money on others reported much greater happiness than those who spend it on themselves.” Kebiasaan saya di atas adalah penggabungan penelitian itu dengan konsep altruisme sebelumnya. Sederhana, cepat, dan jauh lebih murah daripada pergi ke psikolog. 😀
     

Sembari saya menjelaskan hal-hal di atas pada sahabat saya, dia tidak henti-hentinya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Canggih, elo sih emang ngga ada matinya kalo soal beginian. Oke deh, gue akan coba lakuin itu deh mulai besok!” ujarnya. Raut wajahnya yang layu kusam berbeban berat mendadak sirna, digantikan dengan keceriaan anak kecil yang menemukan mainan baru.

“Lama banget nunggu besok. Elo udah ngelakuin poin nomor satu kok sekarang,” sentil saya dengan ringan.

Dia tertegun sebentar, berusaha mengingat-ingat dan langsung kembali tersenyum dengan sangat lebar. “Ah iya juga, wah simpel and instan banget yah.. Thanks berat, bro, gue juga jadi punya pegangan yang praktis sekarang,” ucapnya sambil menyudahi pembicaraan dan mentraktir saya makan di Hanamasa. “Dan bener kata elo tadi, ngga perlu pake hipnotis supaya bisa happy!”

Dia benar, saya tidak menghipnotisnya supaya merasa bahagia. Saya menghipnotisnya supaya.. ah Anda pasti sudah mengerti. 😉 Saya harap dia tidak baca artikel ini.

Selamat praktek kelima poin di atas dan kabarkan hasilnya!

Salam revolusi cinta,

      Lex dePraxis

Solusi Romansa #1 di Indonesia

lex depraxis sebar hitman system


10 Responses to Lima Aksi Menuju Bahagia, Instan!

  1. Pingback: Apakah Wanita Cantik Itu Bahagia

  2. Wah Lex, artikel ini sangat bermanfaat sekali, terlebih disaat diri gw lagi sedih, bolehkah gw bagi ke temen2 yg laen ?

    Lex’s reply: Silakan, bro..

  3. sangat menarik dan bermanfaat banget. Dari hal -hal yang sederhana itulah yang tidak disadari membuat kita bahagia. Saya akan mulai mencobanya…..

    Lex’s reply: Terima kasih, selamat menikmati manfaatnya.

  4. Memberikan uang pada orang.
    kaget juga waktu baca 😐 that’s one of my odd habits too.. tapi Redz biasanya ngasih makanan aja buat pengemis2 yg Redz lewatin. Redz paling seneng liat ekspresi seneng mereka waktu dapet makanan 😀
    Jadi, setuju!! 😀

    noww..minta goban donk Lex ~_~
    *tatapan kucing Shrek*

    Lex’s reply: Nari dulu, baru goban.. :p

Leave a Reply